TNI-stipram

Diam-diam Lurik Merebut Pasar
Tampil dengan Kombinasi Lukisan Berwarna Segar Menawan

Minggu, 07 Okt 2018 | 22:39:32 WIB, Dilihat 193 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Diam-diam Lurik Merebut Pasar Busana lurik yang eksklusif di Pasar Beringharjo. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Stagen Terpanjang di Dunia Capai 1.016 Meter


KORANBERNAS.ID -- Batik memang sedang booming, meski sebagian besar didukung oleh kain bermotif batik dengan proses printing yang harganya relatif murah. Jadi yang beredar dan sangat laris di pasaran bukan batik tulis yang harganya memang relatif mahal untuk ukuran kantong sebagian besar orang.

Selain batik, diam-diam lurik pun kembali merebut pasaran sejak beberapa tahun terakhir ini. Lurik tak lagi kain bermotif lorek-lorek melainkan muncul dengan ragam inovasi dan kreasi.

Ada lurik yang dikombinasikan dengan batik, diberi aplikasi berupa bunga, hewan maupun kombinasi lukisan dengan warna-warna sangat menawan. Ada hijau, kuning, merah, biru. Semuanya memberikan nuansa segar.

“Memang penggemar lurik kebanyakan kalangan menengah ke atas karena harganya relatif agak mahal," kata Yuli di kios busana lurik Yoga yang terletak persis di pintu masuk Pasar Beringharjo Yogyakarta pojok selatan.

Ditemui koranbernas.id, Rabu (03/09/2018), Yuli memberi contoh busana jadi harganya antara Rp 220.000 sampai Rp 325.000. Sedang kainnya berkisar antara Rp 120.000 sampai di atas Rp 200.000. Tergantung kualitas, motif dan tambahan kreativitasnya.

Lurik banyak diburu oleh mereka yang ingin busana eksklusif. Artinya jarang dipakai orang dan juga bukan kelas pasaran. Busana lurik buatan Delanggu Klaten ini dibuat secara manual dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Melalui proses itu kain dijamin tidak mengkeret.

Menurut Yuli, ada lima tenaga desainer yang menyiapkan menjadi busana siap pakai untuk beberapa item saja setiap model busana.

"Ini yang membuat banyak orang penyuka model eksklusif memburunya," kata Yuli, penanggung jawab kios didampingi Fatma.

Yoga berada di jalan masuk lantai satu Beringharjo baru sekitar setahun. Tetapi di lantai dua, sebelah barat kantin Beringharjo Center sudah beberapa tahun ada di sana. Karena cukup prospektif, kemudian menambah di tempat lebih strategis.

Fatma dan Yuli menunjukkan busana lurik hijau segar. (arie giyarto/koranbernas.id)

Di Yogyakarta pernah ada desainer Jadin yang memproduksi busana khas lurik.Beberapa tahun belakangan muncul desainer Lusi yang juga mengembangkan busana lurik secara eksklusif.

"Lumayan mahal untuk ukuran Yogya. Saya pernah beli Rp 800.00o. Tapi eksklusif dan mantap," kata Titi, salah seorang pembeli busana pada desainer Lusi menjawab pertanyaan koranbernas.id.

Menurut Titi, mengikuti perkembangan inovasi dan permintaan pasar, Lusi kini juga mengembangkan lurik inovatif yang dikombinasikan dengan batik, lukisan dan lainnya.

Ny Lendy dari Bengkayang Kalimantan Barat memilih busana lurik di Pasar Beringharjo. (arie giyarto/koranbernas.id)

Ke Bengkayang

Siang itu seorang wanita sibuk memilih dan mematut-patut busana. "Saya favorit warna kuning karena saya Golkar. Untuk kampanye nanti saya dan suami tampil beda dengan busana ini," kata Ny Lendy yang tinggal di Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat.

Suaminya, seorang dokter spesialis lulusan UGM (Universitas Gadjah Mada) akan maju pemilu legislatif DPRD Provinsi Kalbar. Sang istri pun sibuk menyiapkan busana eksklusif dan pilihannya jatuh pada lurik.

Lurik yang pernah jaya era 1960-1970-an kemudian pernah hilang ditelan zaman kini bangkit lagi, bukan hanya di Delanggu.

Sugihartana pewaris kerajinan lurik dari ayahnya di Gamplong Sleman kini juga merasakan peningkatan permintaan pasar.

"Tapi saya hanya memproduksi lurik untuk surjan yang ketika lurik motif baru sempat hilang, lurik surjan tetap tak pernah mati. Karena penggunanya di Yogya masih banyak," katanya.

Selain itu juga memproduksi serbet makang serta setagen. Masih ada pengguna setagen? "Wow masih sangat banyak. Ketika ibu-ibu memakai kain batik pasti pakai setagen. Bahkan ibu-ibu sehabis melahirkan lebih suka pakai setagen dibanding korset," katanya.

Bedanya setagen zaman sekarang lebih pendek dibanding dulu yang oleh kebanyakan wanita dipakai untuk bengkungan.

Minggu (07/10/2018) Kabupaten Sleman mencatatkan Rekor Muri (Mesum Rekor Indonesia) lewat kain setagen terpanjang di dunia yang mencapai 1.016 meter.

Ada juga pameran setagen serupa di Sragen Jawa Tengah. Barangkali ini menjadi harapan lurik ATBM ke depan tetap akan hidup. Setagen pun eksis apalagi lurik inovatif. (sol)



Minggu, 07 Okt 2018, 22:39:32 WIB Oleh : Nila Jalasutra 108 View
Stagen Terpanjang di Dunia Capai 1.016 Meter
Minggu, 07 Okt 2018, 22:39:32 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 228 View
Ribuan Tokoh Wayang Kumpul di Tugu Jogja
Sabtu, 06 Okt 2018, 22:39:32 WIB Oleh : Sholihul Hadi 122 View
Kuliner Tradisional Menambah Daya Pikat DIY

Tuliskan Komentar