atas

Di tangan Anak-anak, Barang Bekas Jadi Karya

Senin, 03 Sep 2018 | 18:14:06 WIB, Dilihat 270 Kali - Oleh Redaktur

SHARE


Di tangan Anak-anak, Barang Bekas Jadi Karya Anak-anak Kedungmiri Imogiri Bantul gembira berkaya membuat permainan dari barang bekas. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Kota Thaif yang Sejuk, Tidak Terasa Arab Saudi


KORANBERNAS.ID — Peristiwa banjir bandang yang melanda Kedungmiri Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul bulan November 2017, mengetuk hati lima mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.

Meski waktunya sudah agak lama, namun kelima mahasiswa itu merasa perlu berbuat sesuatu, terutama untuk anak-anak  agar tidak dihantui trauma. Mereka adalah Athiah, April, Rani, Nanda dan Fadly, yang melakukan upaya perbaikan psikologis anak.

Kepada koranbernas.id, Athiah Jumat (11/05/2018), menjelaskan kehadirannya di desa itu untuk membimbing anak mengembangkan kreativitas dengan cara mengelola barang-barang bekas menjadi sebuah karya.

Seorang bocah tampak serius mencoba membuat permainan dari barang bekas. (arie giyarto/koranbernas.id)

Selain itu, juga dalam rangka pengelolaan trauma, di antaranya melalui berbagai games yang edukatif maupun berpuisi, berpantun dan bernyanyi.

Karya anak-anak itu akan dijadikan contoh karya anak desa yang akan dikembangkan sekaligus sebagai sebuah kampanye memperkenalkan Desa Kedungmiri ke masyarakat luas. Kegiatan ini berakhir 6 Mei silam.

Menggambarkan betapa dahsyatnya banjir akibat meluapnya sungai yang melintasi wilayah tersebut usai hujan turun tidak berhenti beberapa hari, Kepala Desa Sriharjo, Sugiyanto,  menjelaskan ada 54 rumah terlanda banjir.

Tercatat 71 kepala keluarga (KK) menjadi korban banjir setinggi lebih dua meter.  Mereka terpaksa mengungsi sekitar 15 hari ke rumah yang berada di lokasi yang lebih tinggi.

Mahasiswa UAD Yogyakarta membimbing  anak-anak  Kedungmiri. (arie giyarto/koranbernas.id)

Dia bersyukur tidak ada korban jiwa. Meskipun masyarakat cukup menderita karena akses jalan terputus dan penuh lumpur. Sebagian warganya kehilangan mata pencaharian.

Desa wisata itu menjadi lumpuh setelah jembatan gantung yang  dikenal dengan Jembatan Kuning pun hanyut dilanda banjir.

Selama ini masyarakat dan pemerintah desa terus berbenah dan kondisi sudah hampir pulih. Athiah dan teman-teman berharap apa yang mereka lakukan sedikit banyak bisa membantu usaha masyarakat untuk bangkit kembali. (sol)



Senin, 03 Sep 2018, 18:14:06 WIB Oleh : Redaktur 463 View
Kota Thaif yang Sejuk, Tidak Terasa Arab Saudi
Senin, 03 Sep 2018, 18:14:06 WIB Oleh : Arie Giyarto 242 View
Ny Endah Berlari Jemput Hadiah Kulkas
Senin, 03 Sep 2018, 18:14:06 WIB Oleh : Sholihul Hadi 199 View
Pasung Hantui Keluarga Penderita Gangguan Jiwa

Tuliskan Komentar