atas1

Di Kabupaten Bantul Ada 3.725 Balita Stunting

Sabtu, 15 Feb 2020 | 19:58:18 WIB, Dilihat 246 Kali
Penulis : Sari Wijaya
Redaktur

SHARE


Di Kabupaten Bantul Ada 3.725 Balita Stunting Pemberian piring dalam kampanye isi piringku di Balai Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Bantul, Sabtu (15/02/2020). (sari wijaya/koranbernas.id)

Baca Juga : Tak Tinggalkan Pendengar Setianya, RRI Garap Kalangan Milenial


KORANBERNAS.ID, BANTUL – Memperingati Hari Gizi Nasional (HGN) ke 60 yang jatuh 25 Januari lalu, Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Bantul menggelar acara bhakti sosial di Balai Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Sabtu (15/02/2020). Acara dibuka oleh Bupati Drs H Suharsono didampingi Ketua TP PKK Bantul Hj Erna Suharsono, Kepala Dinas Kesehatan Agus Budi Raharjo Mkes, para bidan, kader, ibu hamil serta para remaja.

Mengambil tema "Gizi Optimal untuk Generasi Milenial", kegiatan diisi dengan konseling Pemberian Makan Bayi Anak (PMBA), promosi makan buah dipimpin Hj Erna Suharsono, kampanye isi piringku, sarasehan tentang  gizi seimbang bagi ibu hamil oleh DR Totok Sudargo MKes dari UGM, gerakan minum tablet tambah darah bersama serta launching kedai dapur terapi.

“Mereka yang ikut kegiatan ini mulai remaja hingga ibu hamil, kader maupun para tenaga kesehatan termasuk bidan. Diharapkan dengan kegiatan ini akan menambah pengetahuan dan juga menjadi salah satu upaya dalam rangka cegah dan menekan angka stunting  di Kabupaten Bantul,” kata Rahmat Surya Nugroho, Ketua Persagi Bantul.

Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

Sementara Bupati Bantul H Suharsono mengatakan angka stunting di Indonesia sebesar 30,7 persen. Sedangkan angka stunting di Bantul sebesar 7,73 persen atau sejumlah 3.725 balita.

Stunting atau  tumbuh pendek tercatat 3.725 balita dan ini harus  menjadi perhatian kita bersama untuk bagaimana menekan jumlahnya, ” katanya.

Masalah stunting  tidak bisa hanya diselesaikan melalui program gizi saja, namun harus terintegrasi dengan program lainnya.

“Upaya bersama berbagai pemangku kepentingan perlu terus dilakukan sesuai peran dan fungsinya masing-masing dengan mengutamakan komitmen, kampanye program, akses pangan bergizi dan monitoring program,” katanya.

Upaya tersebut perlu bersinergi dengan sistem pangan melalui penerapan pola gizi seimbang untuk mencari ketahanan pangan dan gizi, kesehatan, pertanian serta lingkungan secara terpadu.

Sedangkan Kasi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Bantul, Karjiyem, mengatakan penyebab stunting secara umum pada anak di Indonesia adalah ASI tidak eksklusif pada 6 bulan pertama, status ekonomi yang rendah, kelahiran prematur, panjang badan baru lahir pendek kurang dari 48 centimeter, ibu yang pendek, tingkat pendidikan orang tua rendah serta anak yang tinggal di daerah miskin perkotaan dan pedesaan.     .

Untuk wilayah Bantul, penyebab stunting di tahun 2019 karena keluarga miskin 47,29 persen dari Balita stunting, usia ibu kurang dari 20 tahun 3,05 persen, ibu lebih dari 35 tahun 9,20 persen, ibu menderita Kondisi Energi Kronis (KEK) sewaktu hamil 15,60 persen, ibu anemia sewaktu hamil 11,41 persen, tidak ASI eksklusif  19,47 persen, pengasuhan anak kepada orang lain 2,7 persen dan pengasuihan anak kepada campuran 30,03 persen.

“Upaya yang telah dilakukan untuk menekan stunting diantaranya  pelacakan stunting oleh petugas dan kader, pemantauan balita stunting, pelatihan PMBA, pelatihan kader pertumbuhan di Posyandu, pemeriksaan dan konseling balita stunting oleh dokter spesialis, penguatan penanggulangan anemia serta pemberian bantuan,” katanya. (eru)

PENCEGAHAN STUNTING

  1. Optimal Gizi 1000 hari pertama sejak hamil hingga anak usia 2 tahun.
  2. Asi Ekslusif 6 bulan
  3. Setelah usia 6 bulan  berikan Makanan Pendamping ASI (MP ASI)  sesuai usia dan kondisi anak dengan MP ASI lokal berkualitas, jangan instan.
  4. Pelatihan Pemberian Makan Bayi Anak (PMBA) pada kader dan ibu.
  5. Rutin minum pil tambah darah agar tidak anemia. Minimal seminggu sekali sejak remaja ketika mulai mentruasi termasuk kepada ibu hamil minimal 90 tablet.
  6. Ciptakan  lingkungan tempat tinggal yang bersih dan sehat, penyediaan air bersih, penyediaan jamban dan memberikan makanan berkualitas.
  7. Konseling paca Catin di KUA untuk menciptakan generasi sehat.
  8. Banyak konsumsi protein pada ibu hamil
  9. Terbiasa dengan Cuci Tangan Pakai Sabun  (CTPS)

Sumber: Dinas Kesehatan Bantul.



Sabtu, 15 Feb 2020, 19:58:18 WIB Oleh : Sholihul Hadi 185 View
Tak Tinggalkan Pendengar Setianya, RRI Garap Kalangan Milenial
Sabtu, 15 Feb 2020, 19:58:18 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 278 View
Madrasah Tidak Ada Gunanya Bila Hanya Menciptakan Kognitif yang Bagus
Sabtu, 15 Feb 2020, 19:58:18 WIB Oleh : Nanang WH 191 View
Petani Masih Enggan Memanfaatkan Mesin Tanam Padi

Tuliskan Komentar