atas1

Dari IPK Jeblok, Kini Ahli Transformasi Dunia

Minggu, 26 Mei 2019 | 23:53:28 WIB, Dilihat 7458 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


Dari IPK Jeblok, Kini Ahli Transformasi Dunia Bayu Seto. (istimewa)

Baca Juga : Para Penari Hibur Penumpang di Stasiun Tugu Yogyakarta


KORANBERNAS.ID -- Nasib orang tidak ada yang tahu. Kesuksesan bisa didapat dari manapun, meski dari hal paling tidak mungkin sekalipun. Pengalaman ini yang dirasakan Bayu Seto. Keberhasilannya sebagai ahli transformasi bisnis di level internasional justru didapatnya dari bukan dari nilai akademik yang sempurna.

Lulus dari Program Studi S1 Teknik Industri Universitas Katolik Parahyangan pada tahun 2007, Region Head Java Oyo Hotel and Homes Indonesia tersebut hanya mengantongi Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 2,1. Namun dia tak putus asa meski pada awalnya kesulitan mencari pekerjaan dengan bekal terbatas.

Karir pria yang pernah jadi dosen Manajemen Strategis di Universitas Multimedia Nusantara tersebut dimulai dari CV Akal Cahaya Media Advertising, salah satu perusahaan kecil di Bandung. Di perusahaan tersebut, Bayu  menjadi sales agent dan telesales.

"Saya menawarkan media iklan ke restoran atau obyek wisata mau beriklan awalnya," ujar Bayu di Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Di tempat tersebut, Bayu hanya mendapat gaji kurang lebih Rp 1.200.000 per bulan. Setelah setahun berkutat di pekerjaannya, dia kemudian coba merantau ke Jakarta.  

Di ibukota, Bayu bekerja keras membagi waktu untuk melanjutkan studi Magister Pemasaran di Prasetya Mulya Business School dengan bekerja di dua perusahaan sekaligus di Octobrand dan Indonet. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Bayu mendalami riset di dua perusahaan tersebut.

"Di perusahaan ini saya bekerja sebagai peneliti dalam proyek penelitian Word-Of-Mouth di Octobrand," jelasnya.

Setelah lulus S2, Bayu pindah kerja ke Gunung Sewu Kencana. Di perusahaan multinasional itu dia ingin mendalami dunia marketing dan branding. Namun pemikirannya keliru karena di anak perusahaan Gunung Sewu Kencana, Great Giant Pineapple, yang merupakan perusahaan nanas terbesar ketiga di dunia tersebut dia justru harus menangani perkebunan nanas di Bandar Lampung.

Namun hal itu tidak membuatnya kecewa. Bayu justru banyak belajar dengan persoalan operasional plantation. Tak sia-sia,  Great Giant Pineapple yang melakukan transformasi pun terpilih masuk ke tim corporate strategic planning yang dipimpin oleh mantan associate McKinsey, Antony Wangsanata, alumnus Stanford University dan University Wisconsin-Madison.

Ingin terus mengembangkan diri, maka pada 2011, Bayu pindah ke Sinar Mas Land sebagai Manajer Program Management Office (PMO) yang bertugas mentransformasi perusahaan. Bayu pun bertanggungjawab dalam pembuatan struktur organisasi baru (karena perusahaan dalam tahap merger BSD dan Duta Pertiwi), Key Performance Index (KPI) dan standard operating procedure (SOP) pertama.

Karirnya terus meningkat saat 2013, Bayu mencoba peruntungan di GrabTaxi (sekarang Grab-red) dengan menjadi Country Head of Business Development. Pada awalnya startup ride-hailing asal Singapura itu masih kecil.

"Hari pertama kerja saya bingung karena kantor GrabTaxi hanya berupa ruko kecil di Benhill dan keadaan yang kacau dimana semua orang sibuk. Saya pun harus langsung bekerja tanpa training," paparnya.

Namun pilihannya masuk ke Grab tidak salah. Perusahaan itu kemudian jadi salah satu decacorn pasca meluncurkan GrabBike, dan GrabCar. Tim Bayu yang awalnya hanya dua orang, menjadi terus bertambah semakin besar karena mampu mendalami cara men-scale up bisnis―atau membuat bisnis naik kelas—dengan memperhatikan budaya lokal.

Tiga tahun kemudian dia ditawarkan menjadi Commercial Director di Gig by Indosat Ooredoo yang merupakan anak perusahaan Indosat Ooredoo. Di perusahaan itu dia mentransformasi agar lebih agile, digital dan cepat.

Kini, Bayu mencoba peruntungan baru. Perjalanannya di dunia digital pun dibawanya untuk mengembangkan teknologi bagi bisnis hotel tradisional. Dia memperkenalkan teknologi untuk menumbuhkembangkan kembali minat masyarakat untuk menginap di hotel tradisional.

Keberhasilan kembali direngkuhnya. Dibawah manajemen OYO, okupansi hotel tradisional yang awalnya hanya 20 persen dengan harga Rp150 ribu, saat ini naik signifikan jadi 85 persen dengan harga Rp200 ribuan per kamar. Pertumbuhan tersebut tidak hanya didominasi pusat namun juga daerah.

"Kami selalu sosialisasi kepada pemilik hotel atau guest house tradisional agar menggunakan teknologi yang akan membantu pertumbuhan bisnis mereka. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi manajemen," imbuhnya.(*/yve)



Minggu, 26 Mei 2019, 23:53:28 WIB Oleh : Sholihul Hadi 293 View
Para Penari Hibur Penumpang di Stasiun Tugu Yogyakarta
Minggu, 26 Mei 2019, 23:53:28 WIB Oleh : Surya Mega 253 View
Karena Ibu, Irwan Perhatian dengan Lansia
Minggu, 26 Mei 2019, 23:53:28 WIB Oleh : Nila Jalasutra 202 View
Kejar Target Kabupaten Layak Anak Utama

Tuliskan Komentar