corona-bukan-aib-yang-harus-ditolakIlustrasi Covid-19 (freepik.com)


redaktur

Corona Bukan Aib yang Harus Ditolak

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Corona Virus Disease-2019 atau Covid-19 masih menjadi momok. Virus yang pertama kali diidentifikasi di Kota Wuhan Provinsi Hubei China pada 2019 itu menyebar di 210 negara, menginfeksi sebanyak 1,999.019 orang, 478.932 orang dinyatakan sembuh sementara 126.708  orang meninggal (data update Corona virus per 15 April 2020).

Kasus positif Covid-19 yang terus meningkat tajam ditambah tingginya angka kematian memunculkan kepanikan masyarakat bahkan tak jarang memunculkan paranoid. “Hal tersebut memicu munculnya stigma negatif pada pasien maupun orang-orang dengan risiko tinggi terpapar Covid-19,” ungkap AKBP Khamdani  S Sos, Kepala BNNK Yogyakarta, Kamis (16/4/2020).


Baca Lainnya :

Menurut dia, stigma yang melekat pada seseorang atau sekelompok orang tertentu sering membuat penerima stigma menerima perlakuan diskriminatif dari kelompok mayoritas, sehingga mereka merasa tertolak oleh lingkungannya.

Buntut dari stigma negatif tersebut adalah tragedi pengusiran warga terhadap tim medis hingga penolakan pemakaman perawat yang meninggal usai merawat pasien positif Covid-19. “Pertanyaannya adalah, apakah pelekatan stigma negatif tersebut membantu menyelesaikan masalah? Jawabannya adalah sama sekali tidak,” kata dia.


Baca Lainnya :

Sebaliknya, dukungan moral maupun material justru yang paling dibutuhkan oleh mereka yang memiliki risiko tinggi terpapar virus seperti paramedis, OTG (Orang Tanpa Gejala), ODP (Orang dalam Pemantauan), PDP (Pasien dalam Pengawasan) maupun positif Covid-19.

Mereka yang berusaha mengisolasi diri di rumah untuk melindungi warga sekitar agar tidak tertular, mestinya  masyarakat memberikan dukungan dengan bergotong royong membantu memenuhi kebutuhannya.

Dukungan masyarakat akan menguatkan psikologis sehingga sistem imun dalam diri dapat dibentuk secara maksimal dan proses penyembuhan akan berlangsung lebih cepat.

Pecandu narkoba

Khamdani menambahkan, perlakuan terhadap mantan pecandu penyalahguna narkoba juga tidak jauh beda dari pasien Covid-19. Stigmatisasi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh besar dalam keberhasilan pemulihan.

Penolakan masyarakat tak jarang membuat mereka frustasi sehingga potensi relapse (kambuh kembali) menjadi tinggi. Stigma dan penolakan tersebut membentuk sikap rendah diri (inferior) bahkan membentuk konsep diri yang negatif bagi mantan pecandu sehingga mereka enggan untuk keluar dari komunitasnya.

Ketika itu terjadi maka mereka akan selalu terjebak dalam lingkaran setan penyalahgunaan narkoba, terus terkungkung tanpa bisa keluar.

“Untuk itu, mari bersama saling menguatkan, saling membantu mewujudkan kebaikan. Demi masa depan yang lebih baik lagi. Stop Corona, Stop Narkoba. Bersama kita bisa!” ajak dia. (sol)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini