atas1

Cinta Tanah Air

Rabu, 24 Okt 2018 | 17:12:36 WIB, Dilihat 1970 Kali - Oleh Sumardi

SHARE


Cinta Tanah Air Sumardi

Baca Juga : Pramuka dan Karakter Bangsa


TANGGAL 17 Agustus 1945 adalah hari yang sangat bersejarah dan sakral bagi bangsa Indonesia. Para pejuang memproklamirkan Kemerdekaan RI yang dikumandangkan oleh Ir. Soekarno dan Bung Hatta. Tepat pada 17 Agustus 2018, usia kemerdekaan Republik Indonesia telah genap 73 tahun. Usia yang bisa dikatakan matang untuk sebuah negara. Usia yang cukup untuk merealisasikan cita-cita para pahlawan yang telah rela bertaruh nyawa demi kemerdekaan bangsa.  Perayaan hari kemerdekaan saat yang tepat untuk melakukan refleksi terhadap sejarah berdirinya bangsa ini. 

Setiap tanggal 17 Agustus, masyarakat Indonesia antusias menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh atas tanah air Indonesia, yang mempunyai wilayah seluruh nusantara, dari Sabang sampai Merauke, hampir di setiap jalan, gapura, kampung-kampung bahkan ke seluruh pleosok tanah air  kita mendapati pemasangan bendera merah putih dengan beragam bentuk dan hiasan-hiasan lain yang membuat suasana menjadi lebih semarak. Berbagai kegiatan perlombaan HUT RI digelar baik tua, muda maupun anak-anak ikut andil dalam kegiatan tersebut.

Namun harus diakui, sampai saat ini belum sepenuhnya hari kemerdekaan kita jadikan pedoman untuk memupuk rasa cinta tanah air dengan segenap jiwa dan raga. Peringatan kemerdekaan hanya sebatas rasa bangga karena bebas dari penjajahan. Padahal hakikat dari sebuah kemerdekaan itu ialah bagaimana terbentuknya sebuah bangsa dan negara yang sejahtera, adil dan makmur, bebas dari kemiskinan dan intimidasi, serta lebih cinta tanah air sebagai refleksi dari kemerdekaan itu sendiri. Kita masih sering mendengar kritikan-kritikan yang ditujukan kepada pemerintah, para pemimpin, cendekiawan, dan pemuda bangsa. Tidak sedikit yang mengkritisi hilangnya nilai karakter anak bangsa. 

Sebagai negara yang merdeka, Indonesia beberapa kali mengalami pengalaman buruk, baik masalah sosial, politik, ekonomi hukum dan Hak Asasi Manusia. Adanya rezim berganti rezim menciptakan ketidakstabilan kondisi sosial politik. Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi, masing-masing memiliki  sejarah yang selalu diingat oleh warga masyarkat bangsa ini. Perubahan sistem penyelenggaraan ketatanegaraan tersebut, akhirnya mempengaruhi pola pikir dan pola tindak rakyat yang juga dapat meninggalkan nilai–nilai luhur keindonesiaan yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945. 

Proses perjuangan kemerdekaan, diraih tidak hanya dengan bambu runcing, tapi juga dengan melalui perundingan-perundingan. Perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan tidak hanya dari Jawa, tapi juga dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan sebagainya, yang tua maupun yang muda bahu-membahu berkerja sama untuk mengusir para penjajah dari bumi pertiwi. Semuanya bergerak dengan kemampuan dan cara masing-masing untuk meraih kemerdekaan bangsa yang tercinta ini. 

Indonesia sebagai negara yang menganut paham demokrasi, tentu banyak hal yang dihadapi baik dampak positif maupun dampak negatif. Dampak positif, rakyat dapat berpartisipasi secara langsung dalam mekanisme seluruh penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Dampak negatif, dengan iklim keterbukaan dan demokrasi dimanfaatkan sebagai peluang untuk ditumbuh-suburkan bibit ideologi lain selain ideologi Pancasila, paham radikalisme dan separatis yang berimplikasi buruk dan berpotensi mengancam disintegrasi bangsa. Mampukah pemerintah meminimalisir semua potensi tantangan tersebut menjadi kondusif dan berubah menjadi potensi dan kekuatan bangsa dalam membangun dan mengisi kemerdekaan negeri ini?

Oleh karena itu, sebagai warga masyarakat  yang cinta tanah air,  marilah kita ikut andil dalam mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa. Para pendidik harus terus berusaha mendidik anak bangsa dengan menanamkan nilai-nilai karakter dan akhlak yang baik pada generasi penerus bangsa. Para politisi harus terus berusaha menghasilkan kebijakan publik yang efektif dan bermanfaat, tidak justru sebaliknya. Saat ini para politisi justru sibuk dengan mencari kebenaran dirinya masing-masing, sehingga tercipta suasana antara anak bangsa saling gontok-gontokan, bagi para penerus bangsa, ayo teruslah berinovasi dan berkiprah dalam pembangunan negara, semuanya harus berpikiran maju. Mari bergerak untuk mengisi kemerdekaan demi masa depan bangsa yang lebih maju dan bersaing dengan negara-negara lain.

Dengan momentum HUT ke 73 RI semoga kita mampu merealisasikan dan meneruskan amanat kemerdekaan RI dan menumbuhkan ruh cinta kita kepada NKRI. Merdeka! ***

 

Penulis adalah dosen Program Pascasarjana Universitas PGRI Yogyakarta

Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi 21 Agustus 2018

 

 



Rabu, 24 Okt 2018, 17:12:36 WIB Oleh : Yudi Heriana Tantri, M.Pd 1626 View
Pramuka dan Karakter Bangsa
Rabu, 24 Okt 2018, 17:12:36 WIB Oleh : Putut Wiryawan 1277 View
Lebaran
Rabu, 24 Okt 2018, 17:12:36 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 1156 View
Hati-hati, Jangan Asal Permak Wajah

Tuliskan Komentar