TNI-stipram

Buku Membuka Cakrawala
Oleh: Muhammad Mufti AM

Rabu, 19 Sep 2018 | 05:55:33 WIB, Dilihat 356 Kali - Oleh Muhammad Mufti AM

SHARE


Buku Membuka Cakrawala Muhammad Mufti, AM. (Foto: Dokumen Pribadi/Koran Bernas).

Baca Juga : Buku Membuka Cakrawala


SATU kata bijak mengatakan, “Buku mengubah takdir orang-orang dan pada akhirnya mengubah takdir bangsa”. Kata bijak tersebut begitu menggelitik, mengingatkan kita akan sejarah perjuangan bangsa pada masa lalu.  Buku memiliki peran penting bagi para tokoh pergerakan nasional waktu itu. Kita dapat mencatat sejumlah nama pendiri Negara Republik Indonesia (the founding fathers),  rata-rata mereka adalah  pecinta  buku. Para pendiri negara dan buku seakan melekat tak terpisahkan. Indonesia berhasil meraih kemerdekaan karena pendiri negaranya cerdas, banyak membaca serta belajar dari buku.

Buku sering disebut-sebut sebagai pembuka cakrawala. Membuka buku berarti membuka jendela dunia; sedangkan kunci untuk membuka jendela dunia adalah membaca. Ketika kita membaca buku, saat itu pula kita menyelami isi dunia. Namun siapa sangka bahwa dengan wujud sederhananya, buku ternyata mampu memberikan pengaruh besar bagi kehidupan. Buku turut mewarnai pergerakan tokoh perjuangan kebangsaan Indonesia hingga mencapai kemerdekaan.

Hal itu sangatlah masuk akal mengingat setiap isi buku membawa dampak bagi pembacanya. Melalui bukulah para pendiri negara memiliki wawasan mengenai perhimpunan, organisasi, pergerakan nasional, maupun kebangsaan sejak masa mudanya. Mereka menjadi the great man, besar karena buku. Bahkan membaca buku tetap menjadi pilihan utama saat diasingkan pemerintah kolonial Belanda. Dari kegiatan membacanya kemudian lahir karya-karya besar yang sampai sekarang masih dapat kita baca.

Salah satu pendiri negara yang akrab dengan buku ialah Sang Proklamator Kemerdekaan, Bung Karno. Banyak tokoh dunia mempengaruhi pemikiran Bung Karno. Hampir sebagian besar bermuatan politik,  perjuangan, nasionalisme, gerakan massa, dan kerakyatan. Tak hanya membaca, Bung Karno juga produktif menghasilkan karya tulisan dari aktivitas membacanya. Tulisan-tulisannya di koran maupun majalah menjadi alat perjuangan pada zaman penjajahan Belanda. Dari Bung Karno pula Pancasila lahir sebagai dasar negara, setelah melewati pergulatan dan pemikiran panjang. Bahkan ia mampu menggerakkan rakyat mengatasi berbagai perlawanan baik secara internal maupun eksternal ketika mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Tokoh proklamator lainnya yang tak kalah hebat yaitu Bung Hatta. Bersama Bung Karno, mereka menjadi Dwi Tunggal Proklamator Kemerdekaan RI. Keduanya memiliki kesamaan dalam hal membaca sekaligus mencintai buku. Bung Hatta merupakan figur negarawan hebat pecinta buku. Tidaklah heran apabila orang mengibaratkan buku bagi Bung Hatta sebagai istri karena saking cintanya terhadap buku. Di mana pun ia berada buku senantiasa bergerak mendampingi.  Tulisan-tulisannya pun mampu menjadi alat perjuangan.

Cukup banyak pejuang kemerdekaan yang berjuang melalui perantaraan buku dan produktivitas menulis. Suatu cermin bahwa dengan membaca buku kita dapat berbuat sesuatu. Kalau dulu buku menjadi alat perjuangan mencapai kemerdekaan. Pada masa sekarang, kita sebagai generasi penerus bangsa seharusnya menjadikan buku sebagai sarana mengisi kemerdekaan. Tujuan negara yakni memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa kita wujudkan melalui buku.

Perlu media yang tepat menggerakkan buku untuk membuka cakrawala dunia. Tak lengkap rasanya membahas buku tanpa menyinggung perpustakaan. Selain kedua tokoh proklamator kemerdekaan, ada figur populer pada zaman now yang juga penggemar buku sekaligus penggerak perpustakaan. Siapa menyangka bahwa Bill Gates yang terkenal dengan Microsoft-nya itu ternyata sangat menggemari buku, terutama buku komputer, ensiklopedia dan biografi. Kegemaran membaca dan dekat pada buku sudah dilakukannya sejak usia 10 tahun.

Bill Gates juga sering berkunjung ke perpustakaan umum di kotanya. Ia pernah mengungkapkan kesuksesan yang telah diperolehnya saat ini berkat perpustakaan umum. Satu fakta riil bahwa buku dan perpustakaan memberikan pengaruh besar atas kesuksesan seseorang. Perpustakaan bukanlah kumpulan buku tanpa arti. Sangat keliru apabila ada pihak menganggap kecil arti sebuah perpustakaan bagi peningkatan kualitas hidup. Pengaruh perpustakaan yang demikian kuat membuat Bill Gates terinspirasi mendirikan sebuah yayasan amal bernama Bill & Mellinda Gates Foundation (BMGF). Salah satunya programnya bergerak untuk meningkatkan kualitas perpustakaan dalam memberikan informasi bagi masyarakat. Fokus pada penyediaan perangkat komputer dan internet agar layanan perpustakaan menjadi lebih lengkap.

Di Indonesia BMGF bekerja sama dengan Coca Cola Foundation Indonesia (CCFI) meluncurkan Program PerpuSeru. Tujuannya menjadikan perpustakan sebagai pusat belajar dan berkegiatan masyarakat berbasis teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas hidup. Langkah nyata dilakukan dengan memberikan stimulasi perangkat komputer dan internet pada perpustakaan di Indonesia. Dukungan Perpustakaan Nasional terhadap Program PerpuSeru terutama dalam hal penguatan staf perpustakaan turut mempercepat tercapainya program. PerpuSeru menghasilkan perubahan sosial positif bagi perpustakaan dan masyarakat. Kerja sama berpola kemitraan ini telah menjangkau hingga perpustakaan desa di Indonesia.

Program PerpuSeru yang sudah berjalan lebih dari lima tahun mampu mengubah paradigma masyarakat. Perpustakaan tak lagi sekadar tempat membaca dan pinjam buku. Perpustakaan bertransformasi menjadi pusat kegiatan masyarakat pada zaman now berbasis teknologi informasi. Perpustakaan tidak hanya menggerakkan buku, tetapi juga memberdayakan masyarakat melalui kegiatan aplikatif dalam berbagai bidang pengetahuan berbasis membaca. Program PerpuSeru menggerakkan perpustakaan hingga mampu menghasilkan impact yang bermuara pada peningkatan kecerdasan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat sesuai fokus program.

Tidak hanya tokoh atau figur populer yang berusaha menggerakkan  buku dan perpustakaan. Nirwan Ahmad Arsuka, di jaringan Pustaka Bergeraknya bahkan mampu menggandeng Pos Indonesia menggerakkan buku dengan program pengiriman buku gratis pada tanggal 17 setiap bulan. Di tingkat lokal daerah, para pegiat literasi punya kesadaran berjuang mendukung program peningkatan minat baca masyarakat melalui berbagai cara. Merintis sebuah perpustakaan atau taman bacaan masyarakat (TBM) hingga membuat kegiatan secara swadaya. Dari Bantul misalnya, sudah dilakukan oleh Sumanto (Perpustakaan Mitra Tema Imogiri), Saiful (TBM Luru Ilmu), Suroto (Rumah Baca Ngudi Kawruh Piyungan), Triyanto (TBM Guyub Rukun Sedayu) dan aktivis lainnya, tak jarang mereka mengelilingkan buku supaya mudah diakses masyarakat meskipun sarananya terbatas.

Mereka tidak saja memiliki buku namun merupakan aktivis penggerak yang bertujuan mendekatkan buku supaya masyarakat lebih berdaya. Mengedukasi dengan buku melalui perpustakaan agar masyarakat cerdas, berwawasan sehingga mengentaskan keterbelakangan pengetahuan. Siapa pun dapat menjadi  inspirator, pejuang literasi, ataupun penggerak agar masyarakat mencintai buku. Menggerakkan buku membuka cakrawala adalah satu hal mulia dan sederhana yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa. ***

 

Muhammad Mufti AM  adalah Pegiat Literasi, Fasilitator Program PerpuSeru, Pustakawan Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Kabupaten Bantul DIY

 

(Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi No. 20, tanggal 20 - 27 Juli 2018).

 

 

 



Rabu, 19 Sep 2018, 05:55:33 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 0 View
Buku Membuka Cakrawala
Selasa, 18 Sep 2018, 05:55:33 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 285 View
Grand Aston Yogyakarta Bertamu ke Koran Bernas
Selasa, 18 Sep 2018, 05:55:33 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 189 View
Ny. Anita Menjenguk Panca, Penderita Tumor Otak di Mata

Tuliskan Komentar