atas1

Bukit Pandawa Dinilai Layak Menjadi Kawasan Cagar Alam Geologi

Rabu, 26 Feb 2020 | 09:36:58 WIB, Dilihat 299 Kali
Penulis : warjono
Redaktur

SHARE


Bukit Pandawa Dinilai Layak Menjadi Kawasan Cagar Alam Geologi Tim verifikasi bersama sejumlah ahli dari UPN Veteran Yogyakarta, perwakilan dari Pemda DIY dan Pemkab Sleman, saat kunjungan Tim Verifikasi Kawasan Cagar Alam Geologi dan Warisan Geologi Kementerian ESDM ke Bukit Pandawa di Godean. (istimewa)

Baca Juga : IKM Sulit Pasok Gula Rafinasi


KORANBERNAS.ID, SLEMAN--Tim Verifikasi Kawasan Cagar Alam Geologi dan Warisan Geologi menilai, Gunung Wungkal atau lebih dikenal dengan sebutan Bukit Pandawa, layak untuk ditetapkan menjadi warisan geologi atau geo heritage.

Penilaian ini didasarkan atas pertimbangan, bahwa bukit di wilayah Dusun Jering, Desa Sidorejo, Godean Sleman ini, memiliki struktur batuan deorit yang berusia lebih dari 40 juta tahun.

“Batuannya sangat tua. Ini sangat menarik dan langka,” kata Peneliti Ahli Utama Badan Geologi Kementerian ESDM, Hanang Samudra, disela-sela kunjungannya ke Bukit Pandawa di Kompleks Perumahan Godean Jogja Hills, Selasa (25/2/2020).

Kunjungan ini, katanya, merupakan bagian dari langkah verifikasi, untuk menilai kelayakan Bukit Pandawa sebagai warisan geologi atau geo heritage, dan ke depannya ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Alam Geologi.

Verifikasi dilakukan, setelah kawasan ini sebelumnya menjadi usulan dari Pemda DIY, sebagai salah satu titik calon geo heritage yang baru di DIY.

“Kami memverifikasi layak atau tidak menjadi warisan geologi. Selain Bukit Pandawa, verifikasi juga kita lakukan terhadap sejumlah lokasi lain yang jadi usulan DIY,” katanya.

Untuk menjadi warisan geologi, kata Hanang, harus melalui sejumlah tahapan. Mulai dari pengusulan daerah ke Kementerian ESDM, yang kemudian disusul pembentukan tim verifikasi dan proses verifikasi, hingga kemudian disusul kegiatan focus group discussion oleh pemerintah daerah.

“Setelah itu, baru akan muncul penetapannya. Jadi prosesnya memang panjang. Setelah ditetapkan, bisa digunakan untuk macam-macam. Misalnya untuk kawasan konservasi, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pariwisata,” katanya.

Pihaknya, dalam kesempatan tersebut hanya melihat data faktual lapangan, fungsi konservasi, dan fungsi pemanfaatan.

“Ini jarang dimiliki tempat lain. Sehingga layak untuk dijadikan warisan geologi,” katanya menegaskan.

Guru Besar dari UPN Veterean Yogyakarta, Prof Dr Bambang Prastistho mengatakan hal senada. Menurutnya, batuan di Gunung Wungkal sangat unik dan jarang dimiliki oleh daerah lain.

Keunikan tersebut yang harus dipertahankan dan harus dikonservasi. “Usianya 40 juta tahun lalu. Ini sangat unik untuk dipelajari anak cucu kita. Kita berharap dijadikan geo heritage. Dan sudah diusulkan oleh Pemda DIY,” katanya.

Sebelumnya, sejumlah lokasi sudah ditetapkan sebagai kawasan geo heritage. Diantaranya Lava Bantal di Berbah dan Tebing Breksi di Prambanan. Setelah penetapan, maka kawasan-kawasan ini tertutup dari aktivitas-aktivitas yang dapat merusaknya, termasuk penambangan.

“Tentu tetap dibolehkan untuk kegiatan-kegiatan. Misalnya untuk kepariwisataan. Tapi harus memastikan tidak akan merusak geo heritage tersebut,” kata Bambang.

Anggota Tim Pengusulan Geo Heritage DIY, Jatmika Setiawan mengatakan, penambahan Gunung Wungkal yang memiliki nama lain Bukit Pandawa tinggal menunggu persetujuan Kementerian Energi Sumber Daya Alam dan Mineral (ESDM).

Menurut Jatmika, Pemda DIY telah menyetujui penambahan Bukit Pandawa tersebut sebagai geo heritage di DIY.

Jatmika yang juga menjadi Dosen Teknik Geologi UPN Veteran Jogja ini menjelaskan, Bukit Pandawa atau Gunung Wungkal ini, akan melengkapi geo heritage lainnya yang sudah lebih dulu ditetapkan di DIY.

Menurut Jatmiko, ada sembilan lokasi yang sebelumnya ditetapkan sebagai kawasan geo heritage di DIY. Mulai Tebing Breksi, Gunung Gamping, Lava Bantal (Sleman), Gumuk Pasir Parangtritis, Gunung Api Purba Nglanggeran, Kali Ngalang, dan Gunung Batur (Gunungkidul), Gua Kiskendo, dan Penambangan Mangaan (Kulonprogo).

Kawasan Bukit Pandawa, kata Jatmika, memiliki struktur geologi yang sangat unik dan langka. Di bukit ini, ia menemukan lava sisa gunung berapi purba, yang usianya sangat tua.

Struktur unik batuan di Bukit Pandawa ini, sebenarnya mirip dengan temuan yang ada di Bayat Klaten.

“Tetapi yang Bayat itu baru sekitar 30 juta tahun. Jadi masih kalah tua,” katanya.

Namun struktur geologi yang ada di Bukit Pandawa Godean di klaim jauh lebih baik. Instrusi batuan tuanya bisa dilihat lebih jelas, dan mudah dijangkau dengan aksesibilitas yang mudah.

“Batuan di sini paling tua di DIY. Usianya 40 juta tahun, atau lebih tua dari yang ada di Nglanggeran. Apalagi dari Merapi yang hanya 2.000 juta tahun,” katanya.

Direktur Utama PT Dewi Sri Sejati Alim Sugiantoro mengatakan pihaknya akan mendukung upaya pemerintah untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai geo heritage di DIY.

Apalagi Bukit Pandawa menjadi bagian dari proyek perumahan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) Godean Hills. “Kalau dapat ditetapkan sebagai kawasan geo heritage kita justru senang dan sangat mendukung. Maka masyarakat sekitar juga bisa diberdayakan,” kata Alim.. (SM)



Rabu, 26 Feb 2020, 09:36:58 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 518 View
IKM Sulit Pasok Gula Rafinasi
Rabu, 26 Feb 2020, 09:36:58 WIB Oleh : Nanang WH 22316 View
Koalisi Lima Parpol Akhirnya Bubar
Rabu, 26 Feb 2020, 09:36:58 WIB Oleh : Sari Wijaya 190 View
Meski Telat Bantul Bentuk Badan Promosi Pariwisata

Tuliskan Komentar