atas

Berharap Cak Nun Dinginkan Suhu Politik

Kamis, 14 Mar 2019 | 00:47:26 WIB, Dilihat 1245 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Berharap Cak Nun Dinginkan Suhu Politik Panitia Pergelaran Seni Indonesia Bersyukur Pesan Perdamaian dari Muhi Jogja saat sesi foto bersama usai konferensi pers di Caffe Merapi, Rabu (13/3/2019). (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Trofi Turnamen Golf Ini Tak Ada di Tempat Lain


KORANBERNAS.ID – Panasnya suhu politik menjelang Pemilu 17 April 2019 diharapkan menjadi dingin dengan tampilnya budayawan Emha Ainun Najib atau Cak Nun pada Pergelaran Seni Indonesia Bersyukur Pesan Perdamaian dari Muhi Jogja, Ahad (17/3/2019) malam mulai pukul 19:00, di Plasa Monumen Serangan Oemoem 1 Maret Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Ketua Umum Pengurus Pusat Alumni (PPA) SMA Muhammadiyah 1 (Muhi) Yogyakarta periode 2018-2022, Mahyudin Al Mudra, yang juga ketua panitia acara itu pada konferensi pers di Caffe Merapi Kridosono Kotabaru, Rabu (13/3/2019), menyampaikan selama ini Cak Nun yang juga alumni Muhi memang dikenal sebagai tokoh yang bisa diterima oleh semua kalangan.

“Sampai sekarang Cak Nun hepi-hepi saja,” ujarnya.

“Cak Nun ini hanya ada satu-satunya di dunia,” sambung KRMT Indro Kimpling Suseno selaku host acara tersebut.

Pada pergelaran seni yang terbuka untuk umum dan gratis itu, Cak Nun dijadwalkan tampil dalam sesi khusus bertema Bersyukur ala Cak Nun. Rangkaian acara yang dipandu MC Indria Sastrotomo ini dimeriahkan pula Tari Saman Kolosal siswa Muhi yang sering tampil di luar negeri serta Mutiara Sekolah oleh Tri Ismu HP.

Kemudian, Senandung Ibu Pertiwi Ebiet G ADE, Semangat Alumni oleh Mahyudin Al Mudra, Riang Cerita Bareng OM Wawes, Indonesia Tegak, Tegas, Tangguh Busyro Muqoddas serta Gelegar Muda The Rain.

“Kenapa kami pilih kata Indonesia Bersyukur, karena hati yang bersyukur pasti akan damai. Di tahun politik yang panas kita tampilkan yang sejuk,” kata Mahyudin.

Didampingi Wakil Sekretaris PPA Muhi, Ida Puji Astuti, lebih lanjut Mahyudin mengatakan Cak Nun merupakan alumni Muhi angkatan 1971, satu angkatan dengan Busyro Muqoddas yang pernah menjadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Saya alumni SMAN 3 Yogyakarta tetapi saya berani mengatakan alumni Muhi ini hebat-hebat, membawa nama harum Yogyakarta,” sambung Indro Kimpling seraya menunjuk gedung sekolah yang berada persis di seberang jalan kafe tersebut.

Mendapatkan pengakuan seperti itu, Mahyudin mengatakan SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta yang berdiri  19 September 1949 ini sudah menelurkan 67 angkatan. “Bahkan ada satu keluarga mulai dari kakek, anak,  cucu dan cicit, empat generasi semuanya alumni Muhi,” ungkapnya.

Dia mengakui selama ini alumni Muhi terkenal fanatik dalam arti positif. Setiap diadakan temu alumni. acaranya melebihi orang mantu  bahkan ada alumni dari Jerman jauh-jauh datang hanya karena ingin kangen-kangenan mengenang masa-masa SMA dulu.

Tidak kurang sepuluh orang alumni sekolah ini berhasil menyandang pangkat jenderal. Sebagian menjadi musisi terkenal seperti gitaris Eross Candra Sheila on 7 atau Dian Ganjar pendiri OM Wawes yang sedang naik daun, sebagian lagi menjadi profesor, doktor, dan selebihnya menjadi pengusaha, menteri serta orang-orang penting di negeri ini.

Mahyudin menegaskan inti dari pergelaran seni ini untuk mensyukuri karunia Allah SWT. Selain itu, juga dijadikan sebagai momentum menyatukan semua angkatan supaya bisa terbentuk semacam korsa atau terbangun rasa korp.

“Ini momentum bagi alumni Muhi untuk bangkit, semoga bisa bermanfaat bagi almamater, sekolah, guru, siswa dan masyarakat” ujarnya seraya berharap semua alumni bisa datang pada acara tersebut.

Mahyudin menegaskan meski pergelaran seni berlangsung di tahun politik tapi sama sekali tidak ada muatan politik di dalamnya. Kalau pun ada yang mencurigai itu hal biasa sebab faktanya organisasi Muhammadiyah secara resmi tidak terlibat politik praktis.

“Di tahun politik seperti ini apapun bisa dikaitkan. Kita ini lugu-lugu saja juga dipertanyakan. Itu pertanyaan wajar di tahun politik. Kami selaku pengurus menjamin tidak ada muatan, tujuan, pesan maupun deklarasi politik. Karena ini pertaruhan nama besar Muhi dan Muhammadiyah maka kita netral,” tegasnya.

Di hadapan awak media, vokalis grup OM Wawes, Dian Ganjar,  mengaku senang diajak memeriahkan acara tersebut. Dengan mengusung musik dangdut dirinya ingin mengubah stigma dangdut yang dianggap sebelah mata identik dengan penyanyi perempuan yang tampil seksi.

“Kita ingin menunjukkan dari Jogja kita bisa mengubah stigma,” ujarnya kemudian menyanyikan sepenggal bait dari salah satu lagunya yang sedang ngehit.

Yang menarik, sambung Indro Kimpling Suseno, acara ini menunjukkan keistimewaan Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono mungkin akan hadir. “Surat resmi yang kami kirim sudah dibaca Ngarsa Dalem, tetapi belum dijawab,” ucap dia.

Menariknya pula, acara kali ini didanai secara gotong royong. “Inilah yang membanggakan kita semua. Gotong royong masih terlaksana dengan baik di Yogyakarta,” tambah Indro Kimpling seraya memastikan acara tersebut akan penuh kejutan. (sol)



Rabu, 13 Mar 2019, 00:47:26 WIB Oleh : Sholihul Hadi 177 View
Trofi Turnamen Golf Ini Tak Ada di Tempat Lain
Rabu, 13 Mar 2019, 00:47:26 WIB Oleh : Nila Jalasutra 163 View
Bupati Tinjau Lokasi Kerusakan Akibat Angin Kencang
Rabu, 13 Mar 2019, 00:47:26 WIB Oleh : Nila Jalasutra 114 View
Sejumlah Rumah Rusak, Tiang Listrik Patah

Tuliskan Komentar