TNI-stipram

Berebut Suara Pemilih Milenial

Senin, 03 Sep 2018 | 14:59:53 WIB, Dilihat 155 Kali - Oleh Redaktur

SHARE


Berebut Suara Pemilih Milenial DAYA PIKAT – Sosok Sandiaga Uno punya daya pikat luar biasa di kalangan anak muda dan “emak-emak”. (BOLA.COM)

Baca Juga : Langkah Kuda Calon Presiden


KORANBERNAS – Pemilih pemula atau yang sering disebut sebagai pemilih milenial tampaknya menjadi incaran serius pada Pilpres 2019. Selain jumlahnya yang cukup besar, generasi milenial ini juga dianggap lebih gampang digaet suaranya karena belum terkontaminasi ideologi parpol.

Pada Pilpres 2019 mendatang, jumlah pemilih pemula diperkirakan mencapai 14-20 juta orang. Asumsinya, pemilih pemula ini sekitar 10 persen dari jumlah pemilih keseluruhan sebanyak 196,5 juta orang.

Pasangan Prabowo-Sandiaga Uno tampaknya sejak awal telah membidik kalangan milienial ini untuk mendulang suara. Sosok cawapres Sandiaga Uno dinilai sangat tepat untuk menarik simpati para pemilih pemula atau pemilih milenial. “Figur Sandiaga bisa masuk ke emilih milenial, kelompok kelas menengah dan terdidik,” kata Ray Rangkuti, pengamat politik Lingkar Madani.

Sandiaga Uno, lanjut Ray Rangkuti, bisa mengambil hati pemilih milenial karena mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu tidak memiliki kecenderungan ataupun tokoh keagamaan. Hal itu berbeda dengan posisi cawapres KH Ma’ruf Amin yang hanya bisa mengkonsolidasi orang-orang yang sudah menentukan pilihannya dari awal.

Sosok Sandiaga Uno memang cukup popular di kalangan anak muda. Selain usianya masih relatif muda, gaya hidupnya yang sehat juga menjadi daya tarik tersendiri. Sandiaga selama ini dikenal sebagai sosok yang gemar olahraga. Ia sering terlihat berlari menuju tempat kerjanya di Balai Kota Jakarta.

Tidak hanya kaum muda pemilih pemula, Sandiaga juga sangat popular di kalangan ibu-ibu. Sosoknya yang muda, ganteng dan kaya-raya, tentu menjadi salah satu alasan mengapa ia sangat disukai kalangan ibu-ibu. Histeria para ibu-ibu tersebut sempat terekam saat Sandiaga Uno mendampingi Prabowo saat pendaftaran Capres dan Cawapres di gedung KPU, beberapa waktu lalu.

Sadar ada segmen dukungan dari kalangan ibu-ibu, maka Sandiga kemudian melempar jargon “the power of emak-emak”. Bahkan, untuk menggaet simpati “partai emak-emak”, Sandiaga sengaja melansir program penurunan harga kebutuhan sehari-hari yang selama ini dinilainya sangat tingggi. Tentu ini sebuah program yang sangat lekat dengan kalangan ibu-ibu.

Menggalang dukungan kalangan pemilih pemula di kubu Prabowo ini akan semakin efektif jika nantinya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga bersedia turun ke lapangan. Sosoknya yang masih muda, ganteng dan cerdas, tentu menjadi daya tarik kuat kaum milenial, juga kalangan emak-emak.

Kubu Jokowi

Kubu Jokowi tampaknya juga tak ingin kehilangan dukungan dari pemilih pemula atau kalangan milenial. Meski sosok Jokowi dan KH Ma’ruf Amin jauh dari kesan representasi kaum muda, mereka optimis bisa mendulang dukungan dari pemilih milenial.

Wakil Bendahara Umum DPP PDI Perjuangan, Juliari P Batubara, misalnya, sangat yakin kalangan pemilih milenial tidak akan berpaling dari Jokowi, meski disandingkan dengan calon wakil presiden yang bukan dari kalangan muda. "Saya kok yakin Pak Jokowi masih punya daya tarik tinggi untuk pemilih pemula," katanya.

Keyakinan yang sama juga disampaikan politisi Partai NasDem, Taufiqulhadi. Menurutnya, meski menggandeng K Ma’ruf Amin, Jokowi tidak akan kehilangan suara dari para generasi milenial.

"Presiden kan masih muda. Simbol ada pada presiden, bukan pada wapres. Untuk menarik suara milenial akan tampilkan presiden. Kami munculkan representasi generasi milenial pada diri presiden langsung," paparnya.

Politisi PDIP, Nico Siahaan, juga menyampaikan keyakinannya bahwa kubu Jokowi akan mampu menarik suara kalangan milenial. Anggota DPR RI ini menyebut Jokowi sebagai pemimpin yang disukai milenial lantaran mengubah paradigma lama seorang pemimpin.

Menurut Nico, Jokowi telah membongkar paradigma pemimpin yang serba protokoler. Hal ini tentu menarik perhatian kalangan muda atau generasi milenial. Selama ini, Jokowi sering tampil di publik dengan pakaian santai, mengenakan sneaker, dan bahkan sering mengenakan kaus.

Dengan gaya penampilan seperti itu, Jokowi tersesan jauh dari kesan pemimpin yang kaku. "Kalau pakai batik, ini kaku banget. Kalau pakai kaus, sepatu kets, celana jeans, milenial akan berpikir 'ini presiden gua banget'," kata Nico Siahaan.

Tak hanya dari segi penampilan, Jokowi juga memiliki pemikiran yang dinamis, khas anak muda. Nico menyontohkan, pemikiran dinamis Jokowi tercermin dari pendekatannya kepada ekonomi kreatif.

Cenderung Golput

Pendapat berbeda justru disampaikan Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute, Gun Gun Heryanto. Ia mengatakan, pemilih milenial justru memiliki kecenderungan untuk golput pada Pilpres 2019.

Menurut Gun Gun Heryanto, pemilih milenial yang identik dengan generasi Y dan generasi Z, mereka yang berumur 17-40 tahun dan terbiasa dengan teknologi informasi dan komunikasi, memiliki karakteristik yang tidak begitu peduli dengan politik. Karena itu, dibutuhkan sejumlah faktor yang dapat menggerakkan kelompok milenial untuk berpartisipasi menggunakan hak politiknya.

Faktor penggerak milenial, katanya, perlu dipancarkan oleh figur calon presiden maupun wakil presiden. Kemampuan mereka dalam memberikan harapan akan mendorong para milenial untuk memilih. Prasyarat untuk menggerakkan kelompok milenial adalah adanya kedekatan dengan figur calon presiden dan wakil presiden.

Kedekatan tersebut dapat diciptakan dari hubungan komunikasi yang setara dan timbal-balik. Karakteristik milenial adalah progresif, dengan pola komunikasi interaksional dan tidak suka dengan gap yang jauh.

Gun Gun menambahkan, para kandidat perlu menginisiasi kebaruan-kebaruan yang membuat kaum milenial mau berpartisipasi dalam Pilpres dan bukan apolitik. Apalagi, kebanyakan kaum milenal ini tidak ada kedekatan dengan partai politik.(eru, berbagai sumber)

 

 



Senin, 03 Sep 2018, 14:59:53 WIB Oleh : Redaktur 238 View
Langkah Kuda Calon Presiden
Senin, 03 Sep 2018, 14:59:53 WIB Oleh : Redaktur 261 View
Isu Agama Belum Tentu Buruk
Minggu, 02 Sep 2018, 14:59:53 WIB Oleh : Nila Jalasutra 140 View
Ini Cara Ajarkan Rukun Islam

Tuliskan Komentar