atas1

Bawaslu DIY Akui Banyak Protes Saat Coblosan

Rabu, 17 Apr 2019 | 22:00:50 WIB, Dilihat 634 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Bawaslu DIY Akui Banyak Protes Saat Coblosan Konferensi pers di Media Center Bawaslu DIY, Rabu (17/4/2019) petang. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Ketua Bawaslu RI Nyoblos di Semarang


KORANBERNAS.ID – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DIY mengakui banyak terjadi protes saat berlangsung coblosan Pemilu 2019, Rabu (17/4/2019). Dari lima kabupaten/kota di DIY, Bawaslu mendata beragam temuan yang terjadi di lapangan.

“Ada protes cukup banyak,” ungkap Bagus Sarwono, Ketua Bawaslu DIY dalam konferensi pers, Rabu petang, di Media Center Bawaslu DIY Jalan Nyi Ageng Nis 544 Peleman Rejowinangun Kotagede.

Konferensi pers yang sedianya dimulai pukul 16:00 itu molor. Hingga terdengar kumandang azan Magrib dari Masjid Ar-Rahim yang berjarak sekitar 50 meter dari Kantor Bawaslu DIY, konferensi pers belum juga selesai.

Didampingi anggotanya Sri Rahayu Werdiningsih, Muh Amir Nashiruddin dan Sutrisnowati, lebih lanjut Bagus menyampaikan dari supervisi yang berlangsung hingga sore itu sebenarnya banyak temuan di lapangan namun belum semuanya bisa disampaikan.

“Hasil supervisi di lapangan sifatnya masih sementara, karena ini baru sebagian,” kata dia.

Sebenarnya, sejak awal Bawaslu DIY sudah wanti-wanti ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) DIY terkait dengan pemilih yang pindah lokasi serta ketersediaan surat suara.

Ternyata kekurangan surat suara hampir merata terjadi di semua TPS (Tempat Pemungutan Suara) terutama basis DPTB (pemilih tambahan) khususnya mahasiswa di wilayah Kabupaten Sleman.

“Ketersediaan surat suara jadi masalah. Ada yang  pukul 11:00 surat suara sudah habis. Ini menjadi salah satu evaluasi kita,” ujarnya seraya menambahkan saat itu juga Bawaslu DIY menginstruksikan agar mencukupi kekurangan surat suara tersebut.

Ada lagi, pemilih sudah telanjur absen namun akhirnya ditolak sehingga marah-marah. Namun demikian sebagian pemilih akhirnya memperoleh surat suara setelah menunggu.

Dengan banyaknya permasalahan itu, saat itu juga berkali-kali Bawaslu DIY meminta penjelasan ke KPU DIY. “KPU sampai bosan menanggapi kami,  sampai level PPS dan PPK tidak bisa dihubungi,” ungkapnya.

Pihaknya juga menemukan pemilih yang berbekal form A5 yang mestinya bisa dilayani pukul 07:00 sampai 13:00, namun di lapangan rata-rata KPPS menolak. Semua itu, kata Bagus, di luar perkiraan Bawaslu.

Selain itu, juga muncul keluhan dari sekitar 200-an pemantau pemilu yang ditolak di TPS. “Saya dalam tanda kutip agak marah,” kata dia.

Belum lagi rumitnya masalah e-KTP karena pemilih banyak yang percaya hoaks. Mereka beranggapan e-KTP bisa digunakan untuk memilih di TPS mana saja.

Padahal berdasarkan aturan, penggunaan KTP harus memenuhi dua syarat. Pertama, pencoblosan dilayani setelah pukul 13:00. Kedua, TPS tempat mencoblos harus sesuai alamat yang tertulis di KTP. “Ada anggapan semua TPS bisa. Itu tren yang terjadi,” jelas dia.

Bawaslu DIY juga sempat menemukan kejadian di sebuah TPS di dekat Goa Selarong, Ketua KPPS lupa menandatangani dan telanjur masuk 60 pemilih.

“Karena kami ingin menyelamatkan hak konstitusional, kami putuskan surat suara dibuka lagi dan ditandatangani oleh ketua KPPS kemudian dimasukkan kembali,” kata dia.

Masalah lain adalah tertukarnya surat suara. Bisa jadi ini karena kurang rapinya KPU.

Hal serupa disampaikan anggota Bawaslu DIY Sri Rahayu Werdiningsih dan Sutrisnowati. “Banyak temuan di lapangan di luar dugaan kami,” kata Sri Rahayu.

Di Kabupaten Gunungkidul di sejumlah TPS terdapat surat suara yang tercampur atau kurang bahkan tertukar dengan daerah pemilihan (dapil) lain. Sebagian dari surat suara yang tertukar itu tidak ada surat suara tambahan.

Bakar surat suara

Dari semua itu, terdapat kejadian yang dinilai Bawaslu DIY sebagai kejadian luar biasa. Seorang pemilih membakar surat suara di TPS dan menyobeknya.

Peristiwa itu terjadi di TPS 9 Jaranmati (II) Karangmojo Gunungkidul. Pelaku membakar surat suara yang dia terima di bilik suara. Dari lima surat suara, yang masih utuh surat suara DPD RI.

“Kami ada fotonya. Yang bersangkutan sudah diamankan polisi,” ungkapnya.

Sri Rahayu Werdiningsih kemudian membuka laptop-nya, menunjukkan surat suara yang terbakar itu kepada media.

Saat ditanya pelakunya laki-laki atau perempuan, dia mengaku lupa, mungkin saking banyaknya tugas yang harus dilaksanakan hari itu.

Ditanya lagi apakah motifnya? Bawaslu tidak sampai masuk ke persoalan itu. “Kita nggak sempat tanya motifnya, kemudian diamankan polisi dan Hansip (Linmas),” jelas dia.

Temuan lainnya adalah terdapat sepuluh surat suara Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (PPWP) yang tercoblos untuk salah satu pasangan calon, saat akan dibawa pemilih ke bilik suara.

“Tercoblos, bukan rusak,” tegasnya seraya menyebut lokasi kejadian itu di TPS 41 Tamantirto Kasihan Bantul.

Dari pelaksanaan supervisi di Kota Yogyakarta, Muh Amir Nashiruddin menyampaikan masalahnya hampir sama yaitu form A 5 serta banyak pemilih DPTB yang tidak sesuai.

Kemudian, jumlah suara tidak sesuai dengan jumlah yang tertulis di amplop, tidak ada form C3 untuk pendampingan pemilih maupun surat suara diberikan dobel. (sol)



Rabu, 17 Apr 2019, 22:00:50 WIB Oleh : B Maharani 739 View
Ketua Bawaslu RI Nyoblos di Semarang
Rabu, 17 Apr 2019, 22:00:50 WIB Oleh : Sholihul Hadi 486 View
Surat Suara Terlalu Besar Biliknya Mungil
Rabu, 17 Apr 2019, 22:00:50 WIB Oleh : Nila Jalasutra 326 View
Delapan Kali Pemkab Sleman Raih WTP

Tuliskan Komentar