atas1

Bantul Berusaha Bangkit dari DBD
Oleh: Meta Nugrahita, Mahasiswa Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.

Minggu, 03 Mei 2020 | 00:20:33 WIB, Dilihat 369 Kali
Penulis : Redaktur
Redaktur

SHARE


Bantul Berusaha Bangkit dari DBD Meta Nugrahita (Foto: Koleksi Pribadi/Koran Bernas).

Baca Juga : Guru Jangan Menyerah pada COVID-19


INDONESIA merupakan salah negara dengan iklim tropis yang memiliki kelembaban tinggi. Iklim tropis ini menjadikan Indonesia ketika musim kemarau memiliki suhu panas dan dingin yang sedang, atau tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Curah hujan di Indonesia juga lumayan tinggi di beberapa daerah, termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya di Bantul. Pada musim pancaroba, suhu di Bantul menjadi panas. Biasanya suhu panas ini dimanfaatkan nyamuk untuk berkembang biak. Salah satunya adalah nyamuk penyebab penyakit demam berdarah. Penyakit demam berdarah umumnya  menyebar  melalui nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk ini menyukai tempat-tempat yang panas dan lembab sebagai habitatnya. Oleh karena itu tidak hanya saat musim pancaroba, tetapi juga saat musim hujan dimanfaatkan kedua nyamuk ini untuk berkembang biak.

Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti yaitu ukuran tubuhnya kecil, berwarna hitam dengan belang putih di sekujur tubuh. Nyamuk Aedes aegypti bersarang dan bertelur di genangan air yang bersih. Sebab nyamuk ini tidak dapat berkembang biak di genangan air yang langsung berhubungan dengan tanah. Di dalam rumah, nyamuk ini banyak ditemukan berkembang biak di tempat penampungan air, misalnya bak mandi, vas bunga, talang air, atau tempat minum hewan peliharaan. Nyamuk ini juga dapat bersembunyi di sudut rumah yang mendapatkan cahaya Gigitan nyamuk Aedes aegypti pun terkadang tidak disadari. Nyamuk yang biasa mengigit manusia adalah jenis nyamuk betina karena darah manusia dibutuhkan untuk proses reproduksi. Nyamuk Aedes aegypti sendiri lebih menyukai darah manusia daripada darah hewan.

Dari empat kabupaten di DIY, tercatat Kabupaten Bantul dengan kasus demam berdarah yang lumayan tinggi. Bantul sendiri merupakan daerah di DIY yang masih banyak perkampungan dan sawah, masih banyak ditemukan kebun dengan pepohonan yang rindang. Pepohonan rindang ini yang kemungkinan sering dijadikan sebagai sarang nyamuk. Selain itu cuaca yang tidak menentu di daerah Bantul juga menjadi penyebab berkembangnya nyamuk Aedes aegypti. Bahkan berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, penderita DBD selama tahun 2019 ada sebanyak 1.323 kasus. Jika dihitung dengan hitungan statistik, angka DBD di Kabupaten Bantul mencapai 148,78 per 100 ribu penduduk. Dari data tersebut kasus DBD di Kabupaten Bantul tergolong tinggi dan perlu penanganan yang serius. Bahkan untuk mengamatinya, kasus demam berdarah di Bantul dibuat dalam siklus lima tahunan. Ini bertujuan untuk membandingkan kasus tahun ini dengan perbandingan lima tahun.

Banyak kemungkinan faktor mengapa kasus DBD di Kabupaten Bantul tergolong tinggi. Kebiasaan masyarakat yang kurang dalam menjaga lingkungan juga merupakan salah satu faktor meningkatnya populasi nyamuk. Seperti jarang menguras bak mandi dan penampungan air lainnya. Serta tidak menutupnya ketika sedang tidak digunakan. Hal ini dapat menyebabkan nyamuk berkembang biak pada genangan air tersebut dan akan terdapat jentik nyamuk di tempat tersebut. Menggantung pakaian yang berlebihan juga dapat menjadikan sarang bagi nyamuk. Kurangnya pencahayaan di rumah baik pada siang hari maupun malam hari; Terlalu banyak menyimpan barang-barang bekas juga dapat menjadikan sarang bagi nyamuk penyebab DBD. Seperti yang kita tahu, nyamuk Aedes aegypti menyukai tempat-tempat yang gelap, lembab, dan kotor.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemda untuk mengurangi kasus DBD di Kabupaten Bantul. Sebagai contoh di daerah Piyungan. Masyarakat di sana telah mendapatkan penyuluhan tentang penyakit demam berdarah. Seperti gejala yang timbul, hal yang menyebabkan populasi nyamuk meningkat, serta pencegahan dan cara mengatasi kasus DBD. Masyarakat menjadi mengerti bagaimana cara menjaga lingkungan sekitar tempat tinggal mereka. Selain itu, mereka juga diberi abate atau obat untuk membunuh jentik nyamuk. Mereka juga dianjurkan untuk menggunakan obat nyamuk dan kelambu saat tidur, hal ini terbukti dapat mengurangi peningkatan kasus DBD di Bantul. Masyarakat juga rutin melakukan kerja bakti pada hari Minggu. Kerja bakti ini dilakukan tidak hanya di lingkungan rumah mereka masing-masing, tetapi juga dilakukan di lingkungan perkampungan mereka. Hal ini selain untuk mengurangi nyamuk juga dapat mengurangi penyebaran hewan lainnya seperti ular. Serta juga dapat membuat lingkungan menjadi lebih bersih dan nyaman.

Oleh sebab itu, ayo kita terapkan kebiasaan menjaga dan membersihkan lingkungan agar terbebas dari DBD. Jika lingkungan kita bersih, pasti akan terasa nyaman bukan? *

 



Minggu, 03 Mei 2020, 00:20:33 WIB Oleh : W Asmani 777 View
Guru Jangan Menyerah pada COVID-19
Sabtu, 02 Mei 2020, 00:20:33 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 359 View
Mahasiswa Luar Jawa Bertahan di Jogja, UJB Galang Bantuan
Sabtu, 02 Mei 2020, 00:20:33 WIB Oleh : Sarwono, MA 411 View
Pustakawan, Pahlawan Pendidikan yang Terlupa

Tuliskan Komentar