atas1

ARTJOG Bukan Lagi Art Fair

Rabu, 24 Jul 2019 | 01:16:48 WIB, Dilihat 266 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


ARTJOG Bukan Lagi Art Fair (dokumen ARTJOG 2018)

Baca Juga : JogjaBike Dukung Penuh Hari Bebas Kendaraan di Malioboro


KORANBERNAS -- Memasuki tahun ke-12, ARTJOG tidak lagi berbicara soal art fair. ARTJOG yang digelar di Jogja National Museum (JNM), 25 Juli sampai 25 Agustus 2019, ini mulai memantapkan posisinya sebagai festival seni kontemporer.

"Tahun ini, kami ingin menegaskan ARTJOG tidak lagi bicara soal art fair. Karena selama ini ARTJOG selalu dikemas meriah dan cenderung festive. Sehingga ARTJOG itu lebih pas bila disebut sebagai suatu festival," ujar Heri Pemad saat bertemu dengan media di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Kamis (11/7).


Founder sekaligus direktur ARTJOG itu memaparkan, setiap hari selalu berhadapan dengan kemajuan dan perubahan sehingga berpengaruh pada cara memaknai kehidupan. Konteks sosial, politik, dan ekonomi selalu berkembang dan turut pula memengaruhi wacana seni dan kebudayaan yang memang tidak pernah bisa dilepaskan dari konteks sosial dan zamannya.

“Komitmen untuk secara konsisten menghadirkan pergelaran seni rupa kontemporer setiap tahun adalah tantangan bagi kami. Kemudian menjadi sebuah tantangan untuk terus menjadi relevan dengan konteks sosial di mana ARTJOG digelar
, untuk terus menghadirkan tawaran percakapan yang inovatif melalui medium seni lintas disiplin,” ujarnya.

“Kita hidup dalam sebuah ruang di mana keragaman adalah hal yang niscaya.
Perbedaan adalah modal yang menguntungkan, dan toleransi adalah satu sikap yang sangat penting untuk kita yakini dan jalani demi terciptanya kehidupan yang ideal dalam masyarakat kita hari ini,” lanjutnya.

Pemad menggarisbawahi tema besar Common|space yang diusung pada pergelaran ARTJOG tahun ini
sebagai sebuah upaya untuk menjalin percakapan dengan kenyataan yang terjadi dalam keseharian. Sebagaimana diketahui, ARTJOG adalah ruang pertemuan bagi beragam diskursus.

“Beragam praktik dan pemaknaan seni yang mewujud adalah sebuah pernyataan, bahwa ARTJOG adalah ruang bagi keragaman ekspresi seni dan kreativitas berbagai individu dari berbagai latar sosial, budaya, dan bangsa. Hal ini mewujud pada beberapa program-program dalam ARTJOG yang dikelola dengan berbeda,”
kata Pemad.

Pada Special Project ARTJOG, keterlibatan seniman/ kelompok seni diperluas baik secara gagasan maupun dalam pemilihan kontributor. Begitu pula dalam memperlakukan Daily Performance yang melibatkan beberapa praktisi pun tetap hadir dengan karakteristik yang khas dalam memaknai dan mempraktikkan seni pertunjukan.

Sementara program LeksiKon hadir sebagai sebuah tawaran baru dalam menampilkan presentasi wicara seniman yang edukatif sekaligus performatif. Program Jogja Art Weeks pun masih terus mendukung dan menguatkan eksistensi berbagai bentuk pergelaran seni pada ARTJOG kali ini.

ARTJOG adalah sarana bertukar gagasan, praktik seni, praktik sosial, ekonomi dan politik, dan berharap selalu bisa memberi sesuatu untuk Yogyakarta, Indonesia, dan bahkan dunia.
“Kami tidak pernah bisa berdiri sendiri, dan kita memang tidak pernah bisa hidup sendiri. ARTJOG Arts in Common adalah ruang yang hidup dari kerja keras bersama, dan akan selalu menjadi ruang untuk bersama,” tandas Pemad.

Kilas Balik

 

Dipengaruhi oleh tren art fair (bursa seni) yang melanda Asia sejak awal 2000-an, penyelenggaraan Jogja Art Fair pada 2008 adalah “embrio” untuk ARTJOG. Format awal kegiatan ini adalah sebuah pameran besar seni rupa, dengan sistem panggilan terbuka (open call).

Evolusi lanjutan perhelatan ini ditandai dengan disandangnya nama baru: ARTJOG pada 2010. Bingkai kerja kuratorial kemudian mulai diterapkan secara lebih ketat. Sejak 2012, keikutsertaan karya-karya seniman mancanegara menegaskan ekspansi sekaligus ambisi ARTJOG untuk menjadi sebuah perhelatan internasional.

Mulai menempati lokasi baru di Jogja National Museum pada 2016, dengan kapasitas dan karakter ruang pajangnya turut memberi warna baru pada transformasi ARTJOG selanjutnya. Meski kini pada gelaran keempat ARTJOG menempati JNM
, Heri Pemad merasa sudah mentok dalam merespon bangunan JNM. Semua teknik sudah pernah dilakukan, mulai dari membuat lubang, mengecat ulang hingga mengubah bentuk Jogja National Museum.

"Andai ada yang menghibahkan lahan yang lebih luas buat kami, tentu akan lebih leluasa mengeksplorasi ruang dan menata display.
Mimpi kami seperti itu, membuat sebuah tempat berkesenian yang tidak kaku bentuknya. Tidak harus di tengah kota, kami justru ingin di daerah pinggiran, karena jika acara yang kami buat menyebabkan macet, saya sangat malu," terang Pemad.

Tahun demi tahun, selain memberi kejutan-kejutan spektakuler dengan presentasi khusus di pelataran gedung pameran, para penggagas ARTJOG juga terus mengembangkan ruang-ruang keterlibatan panggung musik dan seni pertunjukan menjadi agenda rutin
. Platform kreatif lainnya seperti Art Merchandise Project menegaskan ARTJOG sebagai sebuah perhelatan yang semakin inklusif. Dan di atas itu semua, pengaruh pada medan seni rupa lokal benar-benar terasa.

Menjelang dan setelah pembukaan ARTJOG, puluhan pameran diselenggarakan secara organik (rata-rata secara swadaya) oleh ruang-ruang independen, galeri- galeri dan komunitas seniman di Yogyakarta dan sekitarnya. Sejak 2015, kegiatan-kegiatan paralel itu dirangkai menjadi satu di bawah payung Pekan Seni Rupa Jogja
atau Jogja Art Weeks (JAW) dimana para kreator tidak hanya perupa.

Pada akhirnya desainer, musisi, seniman pertunjukan, kriyawan, dan lain-lain pun bertemu dengan publiknya dalam sebuah kemeriahan besar di Yogyakarta. Meskipun tidak pernah ditegaskan secara eksplisit oleh penyelenggaranya, semua karakter yang melekat pada ARTJOG selama ini sesungguhnya telah memenuhi kriteria sebuah festival seni rupa kontemporer berskala kota.

Tapi berbeda dengan festival kota yang umumnya digagas secara sentralistik dan top-down (misalnya semata-mata sebagai agenda pemerintah untuk kepentingan mendongkrak turisme maupun ekonomi suatu daerah), ARTJOG lebih dicirikan oleh gagasan- gagasan bottom-up (meski tak sepenuhnya menolak dukungan dari pemerintah).

ARTJOG adalah sebuah festival, sekurang-kurangnya untuk dua alasan. Pertama, karena secara de facto ia memiliki program-program yang lebih luas ketimbang jenis pameran lain (terutama yang dibingkai dengan label biennale maupun art fair). Kedua, karena selama ini ia dicirikan oleh kemeriahan, keterbukaan, perayaan dan inklusivitas yang boleh jadi, secara mendasar, dipengaruhi oleh karakter kancah seni rupa di Yogyakarta.

Riwayat perhelatan ARTJOG dan JAW selama beberapa tahun belakangan pada akhirnya menjadi salah satu inspirasi utama untuk tema besar yang hendak diusung untuk tiga tahun ke depan. Untuk para inisiator dan penyelenggaranya, selama duabelas tahun ARTJOG telah memberikan pengalaman dan pelajaran yang berharga tentang nilai-nilai gotong royong, keterbukaan, kebersamaan, dan inklusivitas. ARTJOG Arts in Common (2019-2021) mengambil inspirasi dari pengertian ‘the commons’. (*)






 



Rabu, 24 Jul 2019, 01:16:48 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 201 View
JogjaBike Dukung Penuh Hari Bebas Kendaraan di Malioboro
Rabu, 24 Jul 2019, 01:16:48 WIB Oleh : W Asmani 442 View
Produk UMKM Layak Tampil di Toko Modern
Rabu, 24 Jul 2019, 01:16:48 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 261 View
Perempuan-perempuan Pembebas Tampil Gratis di TBY

Tuliskan Komentar