TNI-stipram

Angka Kematian Ibu Hamil di DIY Cukup Tinggi
Dipicu oleh Penyakit Jantung, Bukan Pendarahan

Sabtu, 27 Okt 2018 | 22:21:11 WIB, Dilihat 191 Kali - Oleh W Asmani

SHARE


Angka Kematian Ibu Hamil di DIY Cukup Tinggi Dari kanan, Phyowai Ganap, Diah Rumeksi dan Irwan Taufiqur Rachman. (w asmani/koranbernas.id)

Baca Juga : Siklus Empat Tahunan DBD Diperkirakan Terjadi 2019


KORANBERNAS.ID -- Kasus pendarahan pada ibu hamil saat ini bukan merupakan pemicu kematian ibu hamil. Penyebab utama Angka Kematian Ibu (AKI) hamil justru penyakit jantung.

Di Indonesia AKI menduduki posisi dua setelah Laos, di atas Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam, yaitu 306 kasus kematian ibu per tahun.

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) penyumbang angka cukup besar di Indonesia yaitu 86 AKI per tahunnya.

Dari angka kematian ibu tersebut, penyakit jantung sebagai penyebab terbesar dari kematian ibu hamil.

Anggota Persatuan Obsteri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Diah Rumekti, dalam jumpa pers di RSUP dr Sardjito, Jumat (26/10/2018), mengatakan pihaknya berharap ada kesadaran dari masyarakat untuk melakukan deteksi jantung. "Kenyataannya kesadaran masyarakat untuk mendeteksi jantung masih lemah," ungkapnya.

Calon pengantin diwajibkan deteksi jantung sebagai syarat ke jenjang pernikahan. POGI pun merasa prihatin melihat angka kematian ibu yang masih cukup tinggi.

Karenanya, POGI Cabang Yogyakarta sedang mengupayakan akselerasi penurunan angka kematian ibu.

"Kami memiliki konsep untuk ibu hamil, yaitu Bibit Apik, mBobot Tumata dan Babaran Slamet," kata dia.

Lanjut Diah, upaya mencegah AKI salah satunya melalui penyelenggaraan POGI Jogja Fest 2018 di Balaikota Yogyakarta, Minggu (28/10/2019).

POGI Jogja Fest 2018 meliputi skrining kanker rahim (IVA dan Papsmear) gratis, donor darah, lomba mewarnai untuk tingkat TK dan SD dan talkshow dengan tema Bibit Apik, mBobot Temata dan Babaran Slamet.

Anggota POGI lainnya, Irwan Taufiqur Rachman,  menambahkan masyarakat hendaknya merencanakan kehamilan dengan baik agar kualitas kehamilannya terjaga.

"Dengan melakukan deteksi dini jika terjadi risiko bisa diatasi dengan baik," katanya.

Dia juga menyarankan ibu hami jangan dijauhkan dengan rumah sakit, karena sangat rentan.

Sedangkan Phyowai Ganap yang juga anggota POGI mengatakan, apabila terjadi risiko segera dilakukan pemeriksaan berjenjang.

Pertama, dilakukan di Puskesmas. Apabila ada rujukan, baru pemeriksaan ke rumah sakit sebagai jenjang berikutnya. "Jenjang tertinggi yaitu rujukan ke RSUP dr Sardjito," kata dia.

Menurut Phyowai, pihaknya menargetkan di tahun 2028 angka kematian ibu hamil DIY turun menjadi sebesar 11 per tahun. (sol)



Jumat, 26 Okt 2018, 22:21:11 WIB Oleh : Nila Jalasutra 113 View
Siklus Empat Tahunan DBD Diperkirakan Terjadi 2019
Kamis, 25 Okt 2018, 22:21:11 WIB Oleh : Arie Giyarto 197 View
DIY Miliki Enam Sekolah Siaga Kependudukan
Rabu, 24 Okt 2018, 22:21:11 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 113 View
Hati-hati, Jangan Asal Permak Wajah

Tuliskan Komentar