atas

Air yang Berbicara

Rabu, 10 Apr 2019 | 02:32:22 WIB, Dilihat 221 Kali - Oleh V. Kirjito, Pr. , Rohaniwan, Pemerhati Budaya Air Hujan.

SHARE


Air yang Berbicara Fr Juan sedang melakukan penelitian air (istimewa)

Baca Juga : Para Pensiunan 2049, Horor Teater Gandrik


Pengantar

Bulan Oktober tahun 2018, saya dan Dr. Frederick mendampingi workshop budaya air di Seminari Tahun Orientasi Rohani St. Paulus Nabire Papua. Workshop intensif itu berlangsung selama satu bulan penuh. Diikuti oleh dua belas calon pastor diosesan regio Papua. Para frater dilatih untuk peka merasakan efek dan reaksi air minum, khususnya air hujan yang diionisasi secara mandiri oleh para frater.

Pada minggu terakhir, mereka menulis pengalaman “membaca” tubuhnya sendiri. Berikut ini adalah tulisan Frater Zeperino Juan Izako, salah satu peserta workshop. Semoga menginspirasi Pembaca. Terima kasih

V. Kirjito

Kontak: [email protected]

Terlintas di benak saya, pengalaman di Seminari Mertoyudan beberapa tahun yang lalu. Saya sering sekali minta obat flu kepada Suster yang bertugas mengurus kesehatan di ruang valet (valetudo-inis: kesehatan, Lat). Suster selalu dan pasti bilang : “Minum air, habis itu berdoa”. Suster tak bosan mengulang kata yang sama, walau saya bosan mendengarnya. Saat itu, saya tak pernah mempertanyakan, harus minum air macam apa.

Perjumpaan dengan Rm. Kirjito dan Dr. Frederickh yang memberikan workshop air, sangat kuat mendorong saya untuk mendalami lebih jauh tentang air. 

Mengusir Kantuk

Sebetulnya, saya rajin minum air. Paling tidak 8 gelas setiap harinya. Dulu bahkan saya selalu membawa botol air minum selama pelajaran di kelas. Air itu berguna saat ngantuk mulai menyerang. Saya langsung minum air. Ujung-ujungnya, mau buang air kecil ke WC. Kesempatan itu saya gunakan untuk mencuci muka. Berkuranglah rasa kantuk. Itu saja kesadaran saya tentang air minum.

Kalau saya terserang penyakit, yang jadi pertanyaan bukanlah airnya tapi makanan, atau faktor lainnya. Air sekadar pelarut dan penghilang dahaga, tanpa manfaat yang besar. Maka banyak orang, termasuk saya, tidak mau terlalu repot  memilah-memilih air.

Pencerahan

Romo Kirjito dan Dr. Frederik memberikan banyak materi tentang air. Saya merasa mendapat  pencerahan, membuka wawasan lebih luas, dalam dan detil tentang air. Selama ini saya pikir bahwa air tanah adalah air kualitas unggul karena mengandung mineral yang dibutuhkan tubuh. Ternyata tidak sepenuhnya benar. Tubuh memerlukan air berkualitas, yang ikut memberi dampak pada kesehatan. Bukankah tubuh manusia seperti bumi, dua per tiga berat badan adalah air? Saya baru menyadari fakta ini setelah diterangkan Dr. Frederik.

Cara paling tepat menyadari peran vital air bagi tubuh ialah membuat tubuh dan air  “berbicara, berkomuniasi”. Tentu berbicara bukan dengan lafal alfabet. Bahasa air itu terucap ketika tubuh saya cepat bereaksi untuk membuang air seni, setelah minum “air setrum” atau air yang diionisasi secara elektrolisis. Inilah yang membedakan dengan minum air biasa. Selain reaksi cepat untuk buang air seni, ada reaksi lain yang mengeherankan. Semalaman saya tidak bisa tidur, hingga pagi hari. Memang saat itu saya sedang sakit kepala,  efek dari sakit gigi. Ini keluhan sakit yang sering saya alami. Biasanya walau sakit, saya tetap bisa tidur. Tapi kali ini membuat mata saya enggan tertutup. Dan heran sekali, badan saya tetap segar untuk beraktivitas membaca dan menulis, kerja di depan laptop.

Ketika fajar pagi menyingsing, barulah dokter Frederik dan Romo Kirjito memberitahu. Ternyata rasa tidak mengantuk itu bagian dari reaksi minum air ionisasi. Yaitu reaksi detoksifikasi (pembuangan racun sisa makanan) tubuh. Begitulah, air berkualitas ion “berbicara” dengan tubuh saya.

Laboratotium Tubuh

Pengalaman itu menggerakkan saya untuk lebih mencermati kondisi tubuh. Ternyata benar, air bisa “bicara”. Saat mata lelah dan pikiran serasa berat untuk menerima input (materi kuliah, diskusi berat, debat, dsb), satu atau dua gelas air ionisasi melegakan tenggorokan, bahkan  pikiran. Sedikit air ion PH rendah, di bawah 4 yang lebih banyak kandungan oksigen, membuat otak segar kembali, layaknya computer yang baru di-refresh.

Belum puas akan satu-dua pengalaman, saya mencoba terus mencari pengalaman lain. Tubuh sayalah laboratoriumnya. Saya menguji daya tahan saya terhadap tamu rutin tubuh, yaitu serangan virus flu. Sebulan sekali saya pasti terkena flu. Nah, sejak minum air ion hari pertama, hingga hari ke-13, virus itu belum datang. Saya menanti kehadirannya hingga hari ke-30 nanti. Namun pengalaman saat membersihkan debu patut dicatat. Biasanya debu menjadi faktor lain sakit flu. Aneh, hari Minggu saat membersihkan debu di sela-sela kamar mandi unit, saya tidak terserang flu.

Workshop air secara intensif di seminari ini, meyakinkan saya bahwa air minum yang diproses elektrolisis sehingga menjadi ion, “berbicara” banyak dalam tubuh saya. Sehari saya bisa minum 8-13 gelas air ionisasi bersifat basa, PH di atas 8.5. Terkadang ditambah setengah gelas air asam yang kaya akan kandungan oksigen. Oksigennya membantu otak untuk semakin lancar (encer) berpikir. Tak perlu banyak-banyak, karena tubuh cenderung bersifat asam. termasuk yang keluar melalui keringat dan air seni. Maka lebih banyak minum air basa (PH antara 8.5-10) sebagai penyeimbang keasaman darah pada PH 7.20 – 7.35, demikian Dr. Frederick.

Kesehatan Meningkat

Merujuk pada survey kesehatan pribadi via angket yang dibuat Romo Kirjito, kesehatan saya menunjukkan peningkatan yang signifikan. Meski sempat naik-turun, rata-rata saya tergolong sangat sehat menurut patokan Pater Yan. Ukuran sangat sehat kalau hasil survey berkisar antara 80% - 95%. Tubuh saya sudah 7 kali berada pada tingkat tersebut. Peningkatan kondisi ini saya rasakan terkait dengan konsumsi “air setrum”. Saya eksperimen demikian: Pada hari ke-9, saya minum 10 gelas. Pagi harinya, hari kesepuluh, saya tak lagi bersin-bersin seperti biasanya. Pada hari itu pula saya mengonsumsi kira-kira 13 gelas. Kondisi saya tetap bugar.

Berkah kesehatan dari Tuhan mengalir dalam air minum berkualitas. Saya ingat sabda Yesus, “Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal, “Injil  Yoh 4:14). Tafsir konkritnya, saya selalu sehat berkat air hujan diionisasi.(*)

Fr. Zeperino Juan Izako

Calon imam Keuskupan Timika



Selasa, 09 Apr 2019, 02:32:22 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 550 View
Para Pensiunan 2049, Horor Teater Gandrik
Selasa, 09 Apr 2019, 02:32:22 WIB Oleh : Sari Wijaya 146 View
Politik Uang Itu Racun Demokrasi
Selasa, 09 Apr 2019, 02:32:22 WIB Oleh : Surya Mega 244 View
Bukan Hanya Hemat, Gaya Hidup Sehat Jadi Fokus Panasonic

Tuliskan Komentar