atas

Ada Kegelisahan Masyarakat yang Tercermin Lewat Musik
Guru musik Ike Kusumawati meluncurkan buku otobiografi

Sabtu, 09 Feb 2019 | 02:10:53 WIB, Dilihat 259 Kali - Oleh Putut Wiryawan

SHARE


Ada Kegelisahan Masyarakat yang Tercermin Lewat Musik LAGU BENGAWAN SOLO – Pianis dan guru musik Ike Kusumawati, melantunkan Bengawan Solo ciptaan Gesang, diiringi editor bukunya, Erie Setiawan. (Foto: Putut Wiryawan/Koran Bernas).

Baca Juga : Baciro Diubah Jadi Kawasan Ekonomi


KORANBERNAS.ID – Perkembangan dunia musik yang semakin beragam dalam dua dasa warsa terakhir, seperti lahirnya genre rap, hiphop dan lain-lain, di satu sisi semakin menunjukkan bahwa perkembangan dunia musik di Indonesia memang luar biasa. Jenis musik pop yang warna musiknya kian beragam, cukup menggembirakan dan semakin melengkapi banyak pilihan bagi masyarakat. Setiap warna musik memiliki penggemarnya sendiri. Namun, di balik itu semua, sejatinya ada kegelisahan atau kegalauan di dalam masyarakat.

 

“Saya memaknai masyarakat galau. Ada kegelisahan. Ini dapat berhubungan dengan banyak hal. Tentang kehidupan yang semakin kompleks. Salah satunya, bisa menyangkut soal kehidupan spiritual masyarakat. Kegelisahan itu kemudian terungkap melalui instrumen suara dengan warna yang semakin beragam tadi!” Pendapat ini disampaikan oleh pemusik dan guru musik Ike Kusumawati, menjawab pertanyaan Koran Bernas, Jumat malam (8/2/2019) di Cafe VOC, Jl. DI Panjaitan, Suryodiningratan, Yogyakarta. Dalam sebuah acara yang dikemas sederhana, Ike Kusumawati (56), meluncurkan buku otobiografi yang ia beri judul “Mendidik dari Hati”.

 

Buku setebal 198 halaman itu bertutur tentang perjalanan seorang Ike Kusumawati sejak kecil sampai sekarang. Dinamika perjuangan tergambar sejak ia mulai belajar piano, biola, kuliah di Akademi Musik Indonesia (sekarang ISI Yogyakarta) sampai mendirikan kursus musik Virtuoso di rumahnya kawasan Suryodiningratan.

 

Mengenai alasannya menulis buku, Ike menyampaikan, “Sebenarnya alasanku menuliskan dan membagikan pengalamanku dalam dunia pendidikan musik ini amatlah sederhana; aku tidak ingin membawa semua ilmuku ke liang kubur, jika tiba saatnya nanti aku menghadap Sang Khalik. Ilmu dan pengalaman harus kubagikan sebelum aku mati!”.

 

Ibu dari satu anak semata wayang ini menjelaskan, sejak ia mulai belajar musik, meskipun mengambil mayor biola di AMI, konsisten memilih sebagai pianis. Warna musik klasik, bagi Ike akan selalu abadi. “Saya pernah diminta untuk beralih ke musik jazz, tetapi saya memilih tetap menggeluti musik klasik,” ujarnya meyakinkan.

 

Sekalipun demikian, Ike tetap bisa menerima berbagai genre musik yang sekarang semakin banyak. “Saya bermain musik klasik, tetapi lagu ndangdutnya Rhoma Irama saya juga suka. Sejak SMP dulu,” kata puteri Solo keturunan Tionghoa ini.

 

Buku otobiografi Ike, ditulis dengan editor Erie Setiawan. Terhadap sosok Ike, Erie berkomentar, Ike adalah sosok yang sederhana, disiplin dan konsisten pada pilihannya. Sebagai orang yang menggeluti musik, Ike tidak tenggelam menjadi guru musik di lembaga kursus yang dikelola, tetapi juga tetap bertahan sebagai pemusik dengan menggelar banyak konser. “Ini sesuatu yang jarang terjadi. Biasanya, kalau sudah tenggelam sebagai guru, orang sering melupakan kehidupan musiknya,” kata Erie Setiawan.

 

Menutup acara peluncuran buku, Erie mengiringi Ike melantunkan “Bengawan Solo” dengan piano elektrik.

Ketika ditanya tentang penulisan buku, apakah ini akan menjadi satu-satunya buku dia, Ike sambil terkekeh berujar, “Tadinya saya pikir begitu. Tapi, setelah buku jadi kok jadi pengin nulis lagi. Rupanya saya kecanduan. Hehehe....” (iry)



Sabtu, 09 Feb 2019, 02:10:53 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 195 View
Baciro Diubah Jadi Kawasan Ekonomi
Jumat, 08 Feb 2019, 02:10:53 WIB Oleh : Masal Gurusinga 316 View
Sudah Dibor, Air Tak Sampai ke Warga
Jumat, 08 Feb 2019, 02:10:53 WIB Oleh : W Asmani 235 View
Ini Dia Aturan Baru BPJS

Tuliskan Komentar