atas

47 tahun Teater Alam, Bawakan Montserrat di TBY

Kamis, 06 Des 2018 | 00:26:03 WIB, Dilihat 184 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


47 tahun Teater Alam, Bawakan Montserrat di TBY Para pemeran dalam lakon Montserrat dari kelompok Teater Alam didampingi pimpinan produksi, sutradara, penata musik dan Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta. (Muhammad Zukhronnee Ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Tak Perlu Khawatir, Kaum Difabel Tetap Diperhatikan


KORANBERNAS.ID -- Menandai 47 tahun berkarya, Teater Alam membawa Montserrat ke Concert hall Taman Budaya Yogyakarta. Karya novelis sekaligus dramawan Emmanuel Roblès ini akan dipentaskan Sabtu (8/12) malam.

Mahakarya Emmanuel Roblès, dramawan yang lahir pada tahun 1914 ini diakui Puntung C.M Pudjadi sebagai sebuah karya yang susah dipentaskan. Puntung yang didaulat menjadi sutradara dalam pementasan ini sebelumnya pernah menolak naskah Montserrat. Bukan kenapa, butuh energi yang begitu besar untuk mementaskan naskah Montserrat ini, terangnya saat temu media di Kebon Ndhelik jalan Bausasran, Yogyakarta.

"Namun saat ini saya terima, saya yakin dengan kemampuan senior-senior saya di teater alam untuk membawakan montserrat. mereka pemain-pemain yang mampu dan masih bersemangat," ujar Puntung.

Didampingi Meritz Hindra dan Daru Maheldaswara sebagai assisten sutradara, Puntung C.M Pundjadi cukup hati-hati dalam mengolah naskah terjemahan Asrul Sani ini. Menurutnya selain naskah Montserrat yang memang berat, tata bahasa terjemahan Asrul Sani juga sangat baku hingga susah untung dipanggungkan.

Puntung mengaku tidak berani menambah dialog, dalam penyutradaraan montserrat ini sangat sesuai pakem, tidak bisa nakal dan serius sampai akhir.

"Beruntung kita punya pemain-pemain handal, jadi bisa membawakan montserrat ini dengan baik, semoga sesuai dengan harapan asrul sani sebagai penterjemah montserrat ini," pungkas Puntung.

Karya Robles yang terpesona akan budaya dan Mediterania serta konflik antara kekerasan dan kemanusiaan dapat terlihat juga pada Montserrat ini.

Berlatarbelakang perang kemerdekaan rakyat Venezuela melawan penjajah Spanyol, dalam rangka mewujudkan negara Kolombia yang merdeka. 

Rakyat Venezuela dipimpin oleh Simon Bolivar, dan Spanyol dipimpin Kapten Jenderal Monteverdo. Montserrat, sebagai Kapten tentara kerajaan Spanyol, ternyata berkhianat menyembunyikan Simon Bolivar yang sedang dikejar-kejar pasukan kerajaan Spanyol.

Lakon "Montserrat" lebih menitikberatkan proses interogasi yang dilakukan Kolonel Izquierdo, yang dibantu Kapten Morales, Kapten Zuazola, dan Kapten Anton Anzas terhadap Kapten Montserrat. Karena Montserrat tidak mau mengaku di mana dia menyembunyikan Simon Bolivar yang buron, Kolonel Izquierdo menggunakan taktik mengancam akan menembak mati enam orang, lelaki dan perempuan, yang tidak berdosa sama sekali. Keenam orang itu adalah Saudagar, Pembuat Poci, Ibu, Aktor, Ricardo, dan Elena. Sampai orang keenam ditembak mati, Montserrat tetap tidak mau mengaku.

Karena marah, Kolonel Izquierdo akhirnya menembak mati Kapten Montserrat. Tapi Kolonel Izquierdo akhirnya tertembak mati oleh pasukan Simon Bolivar yang menyerbu bentengnya.

Daning Hudoyo dipercaya memerankan Monserrat, Meritz Hindra menjadi Kolonel Izquierdo (orang kepercayaan Kapten Jenderal Monteverdo), Dinar Setiyawan sebagai Kapten Morales, Eddy Jebeh menjadi Kapten Zuazola, Daru Maheldaswara sebagai Kapten Anton Anzas, Gege Hang Andhika menjadi Saudagar, Anastasia Sri Hestutiningsih sebagai Ibu, Udik Supriyanta memerankan Aktor bernama Juan Salcedo Alvares, Giri MC menjadi Pembuat Poci, MN Wibowo sebagai Ricardo, dan Dina Mega memerankan Elena.

Sajian ini diharapkan mampu menjadi ajang kangen-kangenan para anggota Teater Alam lintas generasi yang masih ada, sekaligus sebagai ajang uji apakah para pemain tua masih mampu menyuguhkan pertunjukan yang menarik sehingga mampu menjadi teladan bagi generasi masa kini. 

Artistik pementasan kali ini ditangani langsung oleh Art Director Palgunadi Poespawijaya dan Tatang Maruto Paksi, yang dibantu oleh beberapa anggota yang tidak terlibat dipemeranan, dan juga oleh anggota DTY yang dianggap sebagai anak cucu Teater Alam.

Selain mementaskan Montserrat, dalam rangka ulang tahun Teater Alam yang ke 47, juga diterbitkan Trilogi buku yang merangkum perjalanan Teater Alam sebagai kelompok teater tertua di Yogyakarta. Trilogi buku itu yaitu "Biografi Azwar AN", "Sejarah Teater Alam", dan Buku Testimoni dari anggota Teater Alam lintas generasi, maupun dari orang-orang yang pernah bersinggungan dengan Bang Azwar dan Teater Alam.(yve)



Kamis, 06 Des 2018, 00:26:03 WIB Oleh : W Asmani 99 View
Tak Perlu Khawatir, Kaum Difabel Tetap Diperhatikan
Rabu, 05 Des 2018, 00:26:03 WIB Oleh : Sari Wijaya 85 View
Bisa Menjelajahi Watu Goyang dengan Jeep
Rabu, 05 Des 2018, 00:26:03 WIB Oleh : Surya Mega 203 View
Karena Faktor Ini, Banyak Kepala Desa Tersangkut Korupsi

Tuliskan Komentar