atas

Jaga Kearifan Lokal Agar Tak Hilang Identitas

Rabu, 06 Feb 2019 | 14:51:55 WIB, Dilihat 161 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


  Jaga Kearifan Lokal Agar Tak Hilang Identitas Rektor UAD, Dr Kasiyarno MHum (kanan) bersama Prof Mohamed Seedat dari University of South Africa disela ‘International Conference on Community Psycology, Humanization, and Religio-Culture : Critical and Decolonial Voice’ di Yogyakarta, Rabu (6/2/2019). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Baca Juga : Kejar Beasiswa, Mahasiswa Antusias ke Luar Negeri


KORANBERNAS.ID -- Bangsa Indonesia perlu menjaga kearifan lokal. Sehingga tidak terpengaruh budaya asing yang bisa menggerus atau bahkan menghilangkan identitas bangsa.

“Pengaruh asing banyak sekali di era globalisasi ini sehingga kita harus memperkuat budaya sendiri agar tidak terpengaruh budaya asing," ungkap Rektor Univeristas Ahmad Dahlan (UAD), Dr Kasiyarno MHum disela ‘International Conference on Community Psycology, Humanization, and Religio-Culture : Critical and Decolonial Voice’ di Yogyakarta, Rabu (6/2/2019). Konferensi ini menghadirkan pembicara kunci Prof Mohamed Seedat (University of South Africa). Nara sumber lain adalah Dr. Herlina Siwi Widiana (UAD), Dr. Leigh Combes (Masey University, New Zaeland, dan Prof Shahnaaz Suffla (University of South Africa).

Kearifan lokal ini, menurut Kasiyarno diperlukan seiring keterbukaan informasi di era Revolusi Industri 4.0. Apalagi perkembangan teknologi yang kian tak terbendung membuat semua pihak bisa mendapatkan informasi secara bebas, terbuka tanpa filter apapun.

Sementara ketua penyelenggara konferensi, Ufi Faturahmah SPsi, MPsi menjelaskan, konferensi kali ini digelar karena latar belakang Ilmu Psikologi yang banyak diwarnai ilmu atau kajian dari Barat. Padahal Indonesia mempunyai latar belakang budaya yang berbeda dengan dunia barat.

“Indonesia punya banyak nilai kearifan yang perlu dikuatkan selain belajar dari negara Barat dalam bidang ilmu psikologi. Melalui konferensi ini dibahas berbagai kajian ilmu psikologi yang dikaitkan dengan budaya,” jelasnya.

Mohamed Seedat dari Afrika Selatan mengungkapkan, studi tentang Psikologi Komunitas banyak dilakukan di negara itu. Psikologi di Afrika Selatan terlibat dengan ideologi dan rasisme politik yang dominan. Bahkan mendukung sistem apartheid yang disahkan pada tahun 1948. Sistem itu berakhir ketika Nelson Mandela menjadi presiden pada tanggal 27 April 1994.

“Ilmu Psikologi berperan penting dalam penyembuhan warga Afrika Selatan dari trauma yang muncul akibat penindasan akibat diberlakukannya sistem apartheid,” imbuhnya.(yve)



Rabu, 06 Feb 2019, 14:51:55 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 281 View
Kejar Beasiswa, Mahasiswa Antusias ke Luar Negeri
Rabu, 06 Feb 2019, 14:51:55 WIB Oleh : Sholihul Hadi 2136 View
Fraksi PKB Pertanyakan Tarif Diklat Rp 30 Juta Per Orang
Rabu, 06 Feb 2019, 14:51:55 WIB Oleh : W Asmani 113 View
Perayaan Imlek untuk Semua Golongan

Tuliskan Komentar