atas1

Berburu Broadway di Kota Batu

Kamis, 04 Apr 2019 | 01:30:08 WIB, Dilihat 922 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Berburu Broadway di Kota Batu Pojok museum angkut yang memperlihatkan brand asal jerman dan tembok berlin sebagai latarnya. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Slamet Tidak Ingin Kasusnya Dipolitisasi


KORANBERNAS.ID -- Langit biru menyambut bus rombongan yang merayap masuk Kota Wisata Batu, pukul 07:00 waktu setempat. Hampir tujuh jam perjalanan membuat para penumpang bergegas keluar menuju tempat transit, untuk sekedar menghirup udara, mandi, atau menuruti keinginan menyulut kretek atau filter yang tertahan selama perjalanan.

Kota Batu resmi berpisah dari Kabupaten Malang sejak 17 Oktober 2001. Sejak itu pula Kota Batu atau yang kini membranding diri dengan sebutan Kota Wisata Batu (KWB) gencar memoles daerahnya. Industri pariwisata memikat wisatawan domestik maupun mancanegara.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2018 tercatat 5,6 juta wisatawan datang ke Batu. Jumlah yang cukup besar dan akan terus meningkat mengingat pembangunan tempat wisata masih terus dilakukan KWB.

Hawa dingin begitu terasa, udara masih relatif segar sepagi ini. Lalu lalang kendaraan belum terlalu padat melintas ruas jalan antara tempat transit yang berseberangan dengan museum angkut.

Rombongan media gathering bersama PT. Garuda Mitra Sejati sampai di Kota Wisata Batu. (istimewa)

Gunung Panderman di belakang museum angkut terlihat jelas. Bahkan puncak setinggi 2.045 mdpl ini pun bisa dilihat dengan mata telanjang. Gunung ikon kota Batu adalah favorit pendaki pemula, selain mudah diakses, jarak tempuh dan rute pendakiannya pun tidak memiliki tantangan yang berarti. Bahkan tak sedikit yang menyebut gunung ini hanya sebuah bukit.

"Bukit Panderman ini ramai kalo musim liburan, terlebih 17 Agustus, biasanya kalau naik ke sana untuk upacara bendera," papar Jono, pemuda yang sehari-hari bekerja di sebuah pusat oleh-oleh Kota Batu ini.

Meski mengaku hanya sekali naik ke Gunung Panderman, Jono terlihat cukup paham mengenai Gunung yang mempunyai puncak bernama Basundara ini.

Dia juga menceritakan  tentang kawanan monyet abu-abu yang acap mencuri bekal para pendaki di sekitar puncak Basundara.

Dari puncak Basundara ini pemandangan sangat eksotis, terlebih di kala malam cerah. Bentangan milky way di belahan langit beradu dengan hamparan lampu Kota Batu di utara Panderman dan kota Malang di timur lautnya.

Sementara di saat pagi hari jika beruntung maka terlihat hamparan awan putih menutupi seluruh kota Batu di bawah puncak Basundara, dengan latar Gunung Arjuna yang gagah menjulang tepat di utara Kota Batu.

Kegembiraan teman-teman saat petik apel. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Perjalanan berlanjut ke kawasan wisata petik apel, di kebun apel yang berlokasi tak jauh dari objek wisata Selecta ini pengunjung bebas makan apel sepuasnya. Apel segar yang dipetik langsung dari pohonnya ini boleh juga dibawa pulang setelah menebus dengan harga Rp. 25.000 per kilogramnya.

Sayang sekali, entah sedang tidak musim atau memang kuota pengunjung melebihi ketersediaan buah apel yang masih berada di pohon. Hanya tersedia apel-apel kecil dan masam.

Sementara buah-buah yang ukurannya lebih layak dan matang justru berada di kebun yang terlarang. Kebun milik kelompok tani ini berpagar, kontras terlihat lebih subur dengan buah menggoda.

Godaan ini tentu disadari oleh tour guide yang memandu. Tak henti-hentinya dia memberikan peringatan lewat pengeras suara yang cempreng bahwa ada bagian kebun yang tidak boleh dipetik, bahkan dilintasi pengunjung.

Sebenarnya rerata pengunjung tidak mengetahui harga per kilo apel di pasaran, bisa jadi lebih murah. Namun keasyikan memetik langsung dari kebun tentu punya daya bius tersendiri, hingga tak sadar plastik seukuran lima kilogram yang dibagikan saat memasuki kebun pun terisi melebihi kemauan di saat keluar dan antre membayar.

Di tempat terpisah, Rizkie Kurniawan pemuda asli Malang bertutur kepada koranbernas.id, sekarang petani-petani batu lebih banyak menanam sayuran, ketimbang apel.

"Apel-apel Malang ini sudah berubah rasanya, tidak seperti sepuluh tahun silam. Faktor lingkungan dan metode perawatan sepertinya membuatnya berubah. Kini apel-apel bagus berada di daerah Poncokusumo, Gubuk Klakah dan Nongkojajar," paparnya.

Sepasang replika kerangka Stegosaurus menyambut pengunjung di lobby Dinopark. (muhmmad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Perjalanan para awak media bersama PT Garuda Mitra Sejati ini berlanjut ke Dino Park, Jawa Timur Park 3 (Jatimpark). Wahana terbaru milik PT Jawa timur Park Group ini terbilang cukup luas dan variatif. Dengan luas 5 hektare Wahana Buatan ini disulap ala-ala zaman Dinosaurus hingga padang pasir.

Setelah melintasi Dino Mall dan turun dengan eskalator menuju Dinopark, pengunjung langsung disuguh kolam air mancur yang lengkap dengan figur superhero berukuran 1:1 melawan penjahat yang  berkendara dinosaurus.

Anehnya dua produsen superhero yang berbeda yaitu Marvel dan DC bersatu padu di sini. Hulk, Ironman dan Batman lalu satria yang piawai menggunakan panah Legolas (lho, makin bingung kan kenapa ada Legolas di antara hero Marvel dan DC?). Legolas adalah satria kaum elf dari trilogi The Lord of The Ring.

Pertarungan superhero menyambut pengunjung sebelum memasuki wahana Dinopark. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Wahana buatan ini sebenarnya sangat menghibur dan mendidik, terlebih untuk anak usia pra sekolah dan sekolah dasar.

Bagi para jurnalis berbagai media di Yogyakarta ini, wahana itu memiliki kelucuan tersendiri. Bahkan ekspektasi kadang terlampau jauh dan tak terpenuhi.

Sepasang replika kerangka Stegosaurus menyambut pengunjung di lobby Dinopark. Selain itu detail bermacam Dinosaurus patut diacungi jempol. Ragam dan kemiripannya dalam pembuatannya sangat diperhatikan. Dari sisi interior pendukung, wahana buatan ini sedap dipandang dan sangat instagrammable.

Tak cukup hanya berkeliling di Dino Park, Jatim Park 3, melalui acara media gathering bersama perusahaan yang menaungi dua Mall besar, Jogja City Mall dan Sleman City Hall serta satu hotel berbintang empat The rich Hotel Yogyakarta ini,  para jurnalis juga diajak mengunjungi Museum Angkut.

Museum Angkut merupakan museum transportasi terbesar di Asia. Luasnya 3,8 hektar dan memiliki lebih dari 300 jenis koleksi angkutan tradisional hingga modern. Museum yang berdiri sejak 2014 ini terbagi beberapa zona yang didekorasi dengan setting landscape model bangunan dari benua Asia, Eropa hingga Amerika.

Koleksi kendaraan Museum Angkut benar-benar menakjubkan, setidaknya buat orang awan. Evolusi sepeda menjadi sepeda motor, beragam mobil klasik, kendaraan dalam film hingga simulator jet darat F1. Bahkan purwarupa mobil listrik Tucuxi yang kecelakaan bersama Dahlan Iskan ada di museum angkut ini.

Pengunjung mencari spot terbaik di area museum angkut untuk diabadikan kedalam ponsel pintarnya. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Mobil sport warna merah mirip Ferari ini terpajang dengan kondisi terakhir pasca dikemudikan mantan Menteri BUMN di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mobil Tucuxi ini selalu menjadi spot alternatif berswafoto pengunjung museum.

Beberapa detail tambahan seperti tembok Berlin menggunakan printing pada media flexi memang cukup untuk menutup kekosongan ruang pada interior museum. Namun hal ini semacam pisau bermata dua, disisi lain justru menimbulkan kesan tergesa dan menghilangkan keseriusan penataan.

Di Zona Sunda Kelapa dan Batavia yang merupakan Replika Pelabuhan Sunda Kelapa, dihiasi oleh beberapa alat transportasi kuno seperti becak dan miniatur kapal. Zona Eropa juga diseting seakan-akan berada di jalanan kota-kota di Prancis dengan mobil-mobil kuno Eropa. Lengkap dengan miniatur menara Eiffel Paris dan pengamen jalanan.

Akhir perjalanan kami di Museum Angkut bebarengan dengan penampilan di ruas jalanan yang di setting ala-ala broadway amerika. Pentas yang juga memanfaatkan jalanan sebagai panggung ini, berganti-ganti tema. Asia, Eropa bahkan cosplay hero-hero populer. (sol)



Kamis, 04 Apr 2019, 01:30:08 WIB Oleh : Sari Wijaya 424 View
Slamet Tidak Ingin Kasusnya Dipolitisasi
Kamis, 04 Apr 2019, 01:30:08 WIB Oleh : Sari Wijaya 2208 View
Tokoh Muhammadiyah dan NU Kupas Sosok AR Fachruddin
Kamis, 04 Apr 2019, 01:30:08 WIB Oleh : Sholihul Hadi 442 View
Saatnya Gugah Milenial Teladani M Natsir

Tuliskan Komentar