Kamis, 23 Sep 2021,


bakso-ikan-gabus-ide-cemerlang-priyo-saat-pandemiPriyo Andi Susanto, warga Baledono, saat menunjukkan produk bakso ikan Gabus kemasan hasil olahannya. (istimewa)


Wahyu Nur Asmani EW
Bakso Ikan Gabus, Ide Cemerlang Priyo Saat Pandemi

SHARE

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Banyak sektor usaha harus gulung tikar selama pandemi Covid-19. Diperlukan siasat berusaha agar bisa bertahan pada situasi sulit saat ini.


Kondisi itu memantik ide Priyo Andi Susanto, warga Baledono, dalam membidik peluang usaha. Ia sukses memproduksi bakso ikan Gabus dan laku keras di pasaran.

Priyo Andi Susanto tidak sendirian. Bersama rekan-rekannya dibawah bendera CV Bumi Menoreh Kencana (BMK) Purworejo, ia menjadikan pandemi Covid-19 sebagai kawah candradimuka teknik bertahan hidup. Sebab, selain menjaga kesehatan, manusia dituntut berpikir positif, kreatif dan inovatif agar mampu bertahan dan keluar dari seleksi alam yang tengah terjadi.

Ide kreatif yang dicetuskan Priyo, sapaan akrab Priyo Andi Susanto, bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia juga membuka peluang usaha bagi warga masyarakat yang kelimpungan “dihajar” virus Corona. Ia hanya ingin masyarakat tetap semangat menghadapi pandemi Covid-19 yang entah kapan akan berakhir.

"Saya dan teman-teman di BMK mencoba membuat bakso ikan Gabus, kuliner khas yang paling diminati masyarakat. Pemilihan ikan Gabus sebagai bahan baku karena sangat baik untuk masa penyembuhan, khususnya penyembuhan luka," ucapnya saat ditemui di rumah produksi bakso ikan Gabus di Kelurahan Paduroso, Kecamatan/Kabupaten Purworejo, Minggu (11/7/2021).

Ide awal bakso ikan Gabus berangkat dari situasi pandemi. Ketika masyarakat butuh menyeimbangkan asupan gizi, khususnya protein. Ikan Gabus diketahui memiliki protein yang sangat tinggi. Ikan Gabus dinilai sangat pas dan cukup dibutuhkan masyarakat dalam kondisi pandemi seperti saat ini.

Seperti diketahui, Ikan Gabus sudah lama dicari untuk mereka yang tengah dalam proses penyembuhan luka, baik operasi Caesar usai melahirkan atau luka-luka kulit lainnya. Namun, tidak sedikit yang takut untuk langsung mengolah dan memakan ikan yang memiliki bentuk kepala seperti ular ini.


"Dari situlah sebetulnya konsep awal bakso ikan Gabus muncul. Intinya supaya ramah dengan siapa saja, tidak takut atau jijik mengkonsumsi ikan gabus," jelasnya.

Priyo menerangkan, sebagai awal usaha ia juga sudah mencoba menjajaki pasar dan memperhitungkan kebutuhan bahan baku. Kemitraan akhirnya menjadi pilihan yang cukup pas. Bersama teman-temannya, Priyo menggandeng Kelurahan Paduroso dan pemerintahan desa lainnya untuk ikut berkembang berwirausaha bersama.


"Mereka bisa membuat kolam, bibit ikan kami sediakan. Stelah besar dengan size 3-4 ekor per kilogram, bisa dijual kepada kami kembali," ucapnya.

Masuk uji coba, Priyo sudah mampu memproduksi 25 kilogram bakso per minggu yang dikemas dengan plastik berlogo. Tes pasar menunjukkan hasil yang bagus. Produknya laku keras. Target ke depan yakni meningkatkan kapasitas produksi menjadi satu kuintal per minggu.


Setelah berhasil, ia mengaku baru akan menggarap jenis olahan lainnya semisal nugget ikan Gabus untuk melayani konsumen yang tidak suka dengan bakso.

Proses pembuatannya juga dijaga sebersih mungkin, menerapkan protokol kesehatan dan tidak menggunakan campuran MSG atau formalin. Ia hanya mencampurkan gula pasir dan beberapa bumbu dari bahan alami secukupnya. Setelah dikemas dengan plastik kemudian divakum dan masuk ke freezer.


"Hasil ujicoba saya bisa tahan sampai sebulan tanpa pengawet. Itu kami uji untuk pengiriman luar kota atau luar daerah. Harapan kami, produk kami bisa tembus pasar nasional," ujarnya.

Priyo menggunakan dua sistem pemasaran. Yakni cara tradisional dengan mengunjungi rumah sakit-rumah sakit, bidan atau orang yang memang membutuhkan untuk penyembuhan luka. Cara kedua yakni melalui medsos.


"Penjualan online juga kami maksimalkan, dan banyak juga yang sudah mulai menjadi distributor dan agen. Setiap distributor yang sudah menandatangani kerja sama akan difasilitasi freezer supaya lebih awet untuk dijual," ujarnya.

Menurut Priyo, bakso ikan Gabus cukup nikmat disajikan laiknya bakso-bakso pada umumnya, berkuah dengan campuran mi, daun seledri dan bawang goreng. Namun bagi yang tidak suka bakso, juga bisa dikonsumsi langsung.

"Kalau mau lebih enak, bisa digoreng biasa, atau dicampur dengan telur atau dibuat sate. Kalau yang suka berkuah, bisa diberi kuah atau dicampur dengan sayuran seperti membuat sup dan sayuran pada umumnya," ucapnya.

Bakso ikan Gabus juga memiliki banyak kelebihan, yakni sedikit kandungan karbohidrat dan lemak jenuh. Bakso ikan Gabus ini memiliki kandungan protein dan omega 3 yang cukup tinggi.

"Kalau rasanya memang lebih kuat daging sapi dan itu yang selama ini dikonsumsi di Indonesia. Tetapi secara kandungan gizi, bakso ikan Gabus jauh lebih baik untuk anak-anak di masa pertumbuhan atau menghindari stunting," katanya.

Salah satu pembeli, Roy Roiko, mengungkapkan bakso menjadi makanan kesukaannya sejak kecil. Namun untuk bakso ikan Gabus, ia mengaku baru kali pertama mencoba. Jika dilihat kandungannya, ia merasa sangat membutuhkan untuk asupan gizi agar seimbang dengan aktivitas olahraga dalam rangka meningkatkan imunitas tubuh disaat pandemi Covid-19.

"Setahu saya, ikan kaya omega 3. Kalau untuk anak-anak, baik untuk meningkatkan kecerdasan dan daya tahan tubuh serta ampuh untuk penyembuhan luka. Kalau beli di pasar, ikan Gabus memang mahal, bahkan setahu saya lebih mahal dibanding ikan gurame. Kebetulan saya ditawari ada dua kemasan, untuk set kecil isi 16 butir bakso harganya Rp 19 ribu dan kemasan besar isi 24 butir bakso harganya Rp 24 ribu. Cukup murah dan tinggal makan," ungkapnya. (*)



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini