atas1

Apa Hubungan Politik dengan Keris? Ini Jawaban Hasto Kristiyanto

Sabtu, 09 Feb 2019 | 22:02:06 WIB, Dilihat 1099 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Apa Hubungan Politik dengan Keris? Ini Jawaban Hasto Kristiyanto Hasto Kristiyanto mengamati keris saat meninjau Pameran Masterpiece Keris Nusantara dan Bursa Tosan Aji Nasional. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Sri Purnomo Bupati Peduli Olahraga


KORANBERNAS.ID – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Serikat Nasional Pelestari Tosan Aji (Senapati) Nusantara, Ir Hasto Kristiyanto MM, buka suara ketika ditanya media apa hubungannya antara politik dengan keris.

Sebagai warga yang lahir dan besar di Yogyakarta, lulusan Fakultas Tenik Universitas Gadjah Mada (UGM) yang kini menjadi Sekjen PDI Perjuangan itu mengakui, antara politik dan keris sama-sama memiliki nilai luhur.

“Politik ini kan seharusnya menyentuh aspek kebudayaan, tetapi kebudayaan yang penuh dengan nilai-nilai peradaban,” ujarnya menjawab pertanyaan wartawan saat menghadiri Rapat Kerja Agung Senapati Nusantara 2019, Pameran Masterpiece Keris Nusantara dan Bursa Tosan Aji Nasional, Sabtu (9/2/2019) malam, di Hotel Ros In Jalan Ring Road Selatan Yogyakarta.

Kegiatan yang berlangsung dua hingga Minggu (10/2/2019) ini diselenggarakan oleh Senapati Nusantara. Peserta berasal dari 47 paguyuban dari berbagai daerah, ditambah lagi peserta peninjau.

Didampingi Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, lebih jauh Hasto mengakui, kebudayaan memang bisa disalahgunakan. Contohnya, puisi bisa disalahgunakan untuk menghina.

“Itu juga bisa, tapi kita tidak ingin. Dengan keris ini, kita ingin berbicara tentang hal-hal yang baik. Politik itu bicara hal yang bail. Politik itu bicara perilaku yang baik,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu Hasto Kristiyanto meninjau stan pameran. Selain menyalami peserta pameran, dia juga sempat mengambil keris kemudian diamatinya dari jarak sekitar 30 sentimeter.

Keris-keris yang dipamerkan semuanya menarik. Tidak heran bila dunia internasional mengakui keris sebagai warisan budaya sekaligus karya seni bangsa Indonesia yang sangat tinggi nilainya.

Itu sebabnya Senapati Nusantara akan melakukan langkah-langkah strategis ke depan. “Termasuk upaya untuk mengusulkan kepada Bapak Presiden Jokowi untuk menetapkan Hari Keris,” ucap Hasto.

Menurut dia, organisasi pendidikan dan kebudayaan dunia, UNESCO, sudah memberikan pengakuan keris merupakan mahakarya yang luar biasa.

“Generasi muda kita harus melihat mahakarya itu dan melihat dari seluruh aspek kepribadian dari seluruh produk tosan aji,” jelasnya.

Didesak wartawan tanggal berapa hari keris itu akan ditetapkan, Hasto mengatakan masih terdapat beberapa opsi.  “Kami akan terus melakukan dialog dengan pemerintah,” tambahnya.

Baginya, Raker Agung Senapati Nusantara 2019 merupakan momentum sangat penting. Inilah tempat bagi seluruh pemerhati, pengagum dan pengembang seluruh karya kebudayaan nusantara berupa tosan aji berkumpul.

Pameran keris di halaman Hotel Ros In Yogyakarta,. (sholiuhul hadi/koranbernas.id)

Melalui raker kali ini pihaknya melakukan evaluasi untuk kegiatan-kegiatan ke depan. “Intisari dari seluruh kegiatan adalah perhatian yang luar biasa dari seluruh Senapati Nusantara terhadap kebudayaan nusantara,” tambahnya.

Pada bagian lain saat ditanya soal Ahok yang merapat ke PDI Perjuangan, Hasto menyebut itu hal biasa saja. “Biasa itu, semua pada merapat. Gitu aja kok repot,” ujarnya.

Menurut dia, partai memang berfungsi untuk menerima mereka yang masuk. “Pak Ahok sebagai anggota biasa.  Setelah ini, Pak Ahok libur dulu 2,5 bulan pergi ke luar negeri, dan itu hak beliau untuk melanglang buana terlebih dahulu,” jelasnya.

Masuknya Ahok merugikan atau menguntungkan? “Kita nggak bicara menguntungkan dan merugikan. Politik ini kan penuh nilai-nilai kemanusiaan. Politik itu membangun peradaban, politik itu tidak hanya bicara untung rugi. Politik itu bicara hal-hal yang fundamental, hubungan kita antar-manusia termasuk hubungan kita dengan Tuhan, hubungan kita dengan alam raya,” paparnya.

Hasto menegaskan, Ahok posisinya sebagai anggota bukan sebagai pengurus. “Kalau anggota, masih ada tahapan penugasan, baru kemudian menjadi kader,” tambahnya.

Bisa mendongkrak suara? “Kita nggak berpikir. Mendongkrak suara itu kerja keras di tengah rakyat, bukan dari seseorang dari KTA (Kartu Tanda Anggota),” tandasnya.

Kembali ke keris, Hasto menjelaskan, produk budaya yang berkembang sejak awal peradaban nusantara ini merupakan seni logam yang teknologinya bisa diunggulkan.

Keris juga mengandung nilai-nilai luhur serta pesan-pesan khusus, yakni suatu esensi dari kebudayaan yang di dalamnya juga mengandung nilai-nilai kemanusiaan.

“Karena itulah Senapati Nusantara menyatukan diri dengan seluruh gerak kebudayaan dan memberikan apresiasi atas seluruh karya kemanusiaan,” kata Hasto. (sol)



Sabtu, 09 Feb 2019, 22:02:06 WIB Oleh : Nila Jalasutra 539 View
Sri Purnomo Bupati Peduli Olahraga
Jumat, 08 Feb 2019, 22:02:06 WIB Oleh : Sholihul Hadi 776 View
Koordinasikan P4GN agar Tak Tumpang Tindih
Jumat, 08 Feb 2019, 22:02:06 WIB Oleh : Sholihul Hadi 620 View
Jelang Pemilu Saatnya Gelorakan Bhinneka Tunggal Ika

Tuliskan Komentar