Selasa, 15 Jun 2021,


anggota-dpr-ri-sebut-industri-digital-sebatas-untuk-hiburanAnggota Komisi I DPR RI, Sukamta. (istimewa)


Siaran Pers
Anggota DPR RI Sebut Industri Digital Sebatas untuk Hiburan

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Anggota Komisi I DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) DIY, Sukamta, menyebutkan perkembangan industri digital di Indonesia belum sesuai harapan. Industri ini masih sebatas untuk hiburan saja. Indikasinya bisa dilihat dari aspek gagap teknologi maupun lemahnya literasi.


Penilaian ini disampaikan Sukamta tatkala menjadi narasumber Seminar Merajut Nusantara bertema Pemanfaatan TIK sebagai Media Sumber Ilmu Pengetahuan Bukan Hoaks, yang diisiarkan langsung secara virtual dari Hotel Ros Inn Yogyakarta, Kamis (6/5/2021).

  • Yogyakarta Uji Coba Tanam Kopi di Lahan Perkotaan
  • Caleg Harus Bersentuhan dengan Masyarakat

  • “Boleh dibilang, industri digital kita masih untuk hiburan. Untuk ha ha he he di sosial media. Yang produktif itu pun kebanyakan untuk marketplace. Teknologi digital level tinggi kita masih sangat ketinggalan,” kata Sukamta.

    Merujuk publikasi hasil survai diketahui penggunaan teknologi digital di negara ini porsi terbesar adalah sosial media dan chatting, tidak peduli berapa pun usianya. Adapun pengguna internet berusia 18 tahun ke bawah cenderung lebih suka main game. “Itu yang paling banyak dilakukan. Betul-betul untuk entertainment dan belum produktif,” tambahnya.

  • Purbalingga Kini Punya Unperba

  • Lulusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) yang meraih gelar doktor dari universitas ternama di Inggris ini mengakui, di negara-negara maju  mayoritas teknologi digital dimanfaatkan mendukung kegiatan produktif.


    “Bahkan akses sosial medai di negara-negara maju rata-rata untuk hal-hal produktif, misalnya mencari solusi wilayah yang mengalami kekurangan air,” ujar anggota Fraksi PKS DPR RI ini.


    Pada seminar yang diselenggarakan Bakti Kominfo dan dipandu moderator Kantoko Satmo Nugroho kali ini, lebih jauh Sukamta menjelaskan akibat lemahnya literasi digital ada yang menyebut Indonesia negara paling tidak sopan di dunia. Ini terjadi karena paling pengguna internet senang membuli. Tidak jarang sosial media jadi ajang “berkelahi”.

    Begitu pula di bidang perpustakaan. Industri digital memang memacu perpustakan mudah diakses secara online namun yang terjadi saat ini ada kesan perpustakaan cenderung kurang dikunjungi. Semua mengetahui, perpustakaan merupakan sumber ilmu tanpa batas sekaligus rujukan utama sumber belajar.

    Dia mengakui, budaya berkunjung ke perpustakaan berkurang karena faktor adanya kecenderungan melihat tayangan infotainmen di sosial media lebih menyenangkan. Dampaknya adalah berkurangnya minat baca buku teks. Ini tantangan. Negara akan maju jika didukung budaya text book.

    “Kita bersama seluruh komponen ingin membangun peradaban nusantara dan Indonesia. Dunia digital yang kita ada di dalamnya tidak terhindarkan, pasti akan jadi dunia baru dan harus kita manfaatkan maksimal,” kata Sukamta.

    Bagi dunia pendidikan, politisi kelahiran Klaten ini sepakat ke depan teknologi informasi dan komunikasi perlu diajarkan sejak dini, bukan yang sifatnya dasar tetapi agloritma atau bahasa mesin bahasa digital. “Kita ciptakan budaya agar dunia digital digunakan untuk hal-hal produktif,” kata Sukamta.

    Narasumber lainnya pada seminar ini yaitu pakar komunikasi yang dosen UIN Syarif Hidayatullah, Ismail Cawidu, maupun kreator konten pendidikan dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabar Nurohman, mengakui industri digital di Indonesia tidak mudah fokus.

    Dari pengalamannya, Sabar mengungkapkan konten pendidikan lebih sulit berkembang dibanding hiburan. “Perkembangannya tidak cukup cepat. Anak-anak kita lebih suka cari hiburan di internert daripada mencari informasi sains,” ungkap pria kelahiran Banjarnegara itu.

    Terkait sopan santun dunia digital, Sabar juga mengakui masih banyak terjadi kebiasaan suka share tanpa tabayyun. Pada kondisi sekarang ini, memilih jalan tidak mudah share dirasa lebih aman.

    “Kita tidak cukup waktu untuk klarifikasi dan konfirmasi, salah satu jalan aman adalah tidak mudah share. Pada era sekarang yang kata orang penuh jebakan, kita masuk ke dunia internet perlu selektif,” tandasnya.

    Sabar sempat menyampaikan kekhawatirannya mungkin tidak lama lagi dunia pendidikan terdisrubsi. Keberadaan guru dan sekolah tidak dibutuhkan ketika semua pertanyaan bisa diselesaikan melalui google.

    Mungkin juga suatu saat pada suatu zaman kertas ijazah tidak lagi dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan, melainkan kemampuan.

    Pada bagian lain Sabar mengingatkan jangan sampai anak-anak terpenjara oleh teknologi informasi sehingga terhalusinasi seolah-olah hidupnya dikendalikan oleh game dan gadget.

    Ini fakta. Bukan sekadar omong kosong. Banyak kasus anak terhalunisasi game dibawa ke Puskesmas. “Mestinya TI dikendalikan bukan sebaliknya mengendalikan manusia,” kata dia.

    Sementara itu, Ismail Cawidu mengatakan Indonesia menerapkan kebijakan langit terbuka. Seluruh informasi masuk HP tanpa filter. “Ini luar biasa. Tidak ditapis dulu oleh negara, karena kita negara demokrasi konsekuensinya harus bebas,” ungkapnya.

    Berbeda dengan China, misalnya, semua informasi di bawah kendali dan pengawasan pemerintah negara itu. Hanya informasi yang cocok serta sesuai dengan kondisi mereka yang bisa dilepaskan. “Kita masuk dulu baru disaring,” kata dia.

    Ismail mengingatkan dunia internet bukan milik perorangan. Artinya, meski bebas tetapi pengguna internet juga dibatasi. “Nikmati kebebasan asalkan tidak kebablasen. Dunia maya internet hanya alat bantu mengerjakan kebaikan dan pekerjaan produktif. Jangan tinggalkan jejak yang jelek, tapi yang baik,” ucapnya. (*)



    SHARE


    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini