60-ribu-penduduk-kebumen-sasaran-mitigasi-tsunamiJalan Lintas Selatan Selatan di Kecamatan Puring sebagai batas daerah terdampak tsunami terjauh. (nanang wh/koranbernas.id)


nanang

60 Ribu Penduduk Kebumen Sasaran Mitigasi Tsunami


SHARE

KORANBERNAS.ID – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)  Kabupaten Kebumen, Eko Widianto, menyatakan instansi yang dipimpinnya siap melaksanakan kegiatan Ekspedisi Desa Tangguh Bencana  (Destana) Tsunami.

“Berdasarkan jadwal yang kami terima dari BNPB kegiatan tersebut dilaksanakan Selasa (30/7/2019) sampai Rabu (31/7/2019),” ujarnya kepada wartawan, Jumat (26/7/2019).


Baca Lainnya :

Didampingi Kepala Bagian Humas Pemkab Kebumen, Budi Suwanto, dia menyampaikan Ekspedisi Desa Tangguh Bencana  (Destana) Tsunami  di Jawa bagian selatan merupakan wujud  dari mitigasi (pengurangan risiko bencana) tsunami.

Di  kabupaten ini setidaknya terdapat 60.000 jiwa menjadi sasaran  kampanye mitigasi tsunami. Pasca-ekspedisi diharapkan mitigasi tetap dilakukan berkelanjutan.


Baca Lainnya :

“Mitigasi tsunami di Kabupaten Kebumen tidak  berhenti pada  kegiatan ekspedisi itu,” kata dia.

Dia menjelaskan terdapat 31  desa rawan tsunami dengan jumlah penduduk di wilayah sejumlah 60 ribu jiwa lebih.

Mitigasi tsunami di antaranya merawat 18 unit Early Warning System (EWS) yang terpasang di sepanjang Pantai Selatan Kabupaten  Kebumen.

Peralatan EWS yang berfungsi memberi tanda berupa sirine saat ada potensi tsunami pasca gempa, kondisinya masih baik.

Setiap tanggal  26  pukul 10:00 sireine itu dibunyikan. Selain untuk menguji EWS masih berfungsi atau tidak, juga untuk membiasakan masyarakat sekitar mengetahui fungsi peralatan tersebut.

“Harapanya ketika EWS diuji, ada simulasi masyarakat menyelamatkan diri ke daerah yang aman,“ kata Eko Widianto.

Seandainya terjadi  potensi tsunami pascagempa, bertepatan dengan tanggal dan jam uji coba EWS setiap bulan, masyarakat di  daerah terdampak harus benar-benar berada di tempat yang aman.

Sarana mitigasi lain berupa rambu arah evakuasi jika terjadi tsunami.

Rambu tersebut diharapkan diperbanyak oleh pemerintah desa. Arah dan tempat evakuasi disepakati warga terdampak.

Menurut Eko Widianto, daerah terdampak tsunami berada di sebelah selatan Jalan Lintas Selatan Selatan (JLSS), dahulu dikenal bernama Jalan Diponegoro.

Sedangakan kondisi aman berada di utara JLSS, jika tinggi gelombang tsunami tidak lebih dari 15 meter. Apabila terjadi tsunami dengan tinggi gelombang lebih dari 15 meter, sebelah utara JLSS juga terdampak.

“Tinggi Jalan Diponegoro yang sekarang ini menjadi JLSS adalah 15 meter di atas permukaan laut,“ kata Eko. (sol)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini