langit-tibatiba-mendung-saat-pusaka-gunungkidul-disucikanDua abdi dalem Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat, membersihkan tombak yang pusaka masyarakat Gunungkidul di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Selasa (8/9/2020). (sutaryono/koranbernas.id)


St Aryono

Langit Tiba-tiba Mendung Saat Pusaka Gunungkidul Disucikan

SHARE

KORANBERNAS.ID, GUNUNGKIDUL -- Sejak pagi terik matahari terasa panas menyengat. Bahkan dibanding hari-hari biasanya, hari ini, Selasa (8/9/2020), terasa lebih gerah. Namun, boleh percaya atau tidak, ketika pusaka Kabupaten Gunungkidul berupa dua tombak dikeluarkan dari gedhong pusaka di ruang tengah Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, untuk dijamaskan atau disucikan (dibersihkan), terik matahari meredup dan langit langsung diselimuti mendung.

Bersamaan itu, angin bertiup pelan. Udara panas berubah menjadi sejuk ketika prosesi jamasan pusaka dimulai.


Baca Lainnya :

Sementara itu, dua orang abdi dalem Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat bersila di samping bawah meja panjang, dengan mulut berkomat-kamit, sementara dupa terus mengepul, maka prosesi membersihkan pusaka milik masyarakat Gunungkidul berupa Tombak Kiai Margo Salurung dan tombak Kiai Panjolo Panjul, dimulai.

Ubarampe berupa sesaji di dekat pusaka itu sudah disiapkan. Dengan menggunakan meja panjang, satu per satu tombak dibersihkan menggunakan air bunga dan dioles dengan jeruk nipis, minyak kelapa, dan ditambah zat kimia tertentu sebagai warangan.


Baca Lainnya :

“Meskipun saya sudah terbiasa dengan pekerjaan ini, namun ketika membersihkan pusaka ini, perlu persiapan khusus. Laku prihatin dengan puasa saya lakukan. Saya tidak boleh sembarangan, karena dua pusaka ini paringan Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat,” kata KRT Sarwo, di sela jamasan pusaka itu.

Ia mengaku sudah 25 tahun menjadi abdi dalem, dan sudah lebih 15 tahun diperkenankan menjadi pembersih pusaka. Sebab, abdi dalem yang diperbolehkan mencuci benda pusaka, menurutnya, tingkatannya harus sudah tinggi.

Setelah dilakukan proses pembersihan, lalu dijemur di samping gedhong pusaka sekitar 10 menit. Selanjutnya pusaka itu kembali dibersihkan, dan dimasukkan ke dalam kain pembungkusnya, dan akhirnya dimasukkan kembali ke gedhong pusaka, bagian tengah bangunan bersejarah Bangsal Sewokoprojo. Ditempat ini tampak terpasang deretan foto-foto mantan bupati yang pernah memimpin Gunungkidul.

Menurut KRT Sarwo, hari untuk pembersihan pusaka ditentukan oleh pihak keraton. “Sebab, untuk pusaka yang diserahkan ke daerah, jamasannya setelah kraton selesai melakukan,” pungkasnya. (*)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini