dipindah-dari-mobil-tangki-ke-ember-lalu-dipikul-naik-ke-atas-bukitWarga Padukuhan Baturturu, Kalurahan Mertelu, Kapanewon Gedangsari, menggali sumur untuk mendapatkan sumber air. (sutaryono/koranbernas.id)


St Aryono

Dipindah dari Mobil Tangki ke Ember, Lalu Dipikul Naik ke Atas Bukit

Derita Warga Demi Setetes Air di Wilayah Kekeringan
SHARE

KORANBERNAS.ID, GUNUNGKIDUL – Bencana kekeringan kini tengah menerjang Gunungkidul. Ratusan ribu warga di kabupaten yang punya luas wilayah hampir separo Provinsi DIY ini kesulitan untuk memperoleh air bersih.


Baca Lainnya :

 

Meski bencana ini rutin setiap tahun terjadi, namun setiap tahun itu pula menyisakan penderitaan warga untuk mendapatkan setetes air. Sebagaimana di Padukuhan Baturturu, Kalurahan Mertelu, Kapanewon Gedangsari, yang merupakan salah satu wilayah yang sulit mendapatkan air bersih.


Baca Lainnya :

 

Wilayah dengan 130 kepala keluarga (KK) meliputi 400 jiwa ini, dalam kesehariannya penuh perjuangan mendapatkan air bersih. Wilayah berbatasan dengan Kabupaten Klaten ini dikenal punya medan yang ekstrem, karena sebagian warga bertempat tinggal di lereng atau di atas bukit terjal.

 

“Karena sulitnya lokasi wilayah kami, membuat bantuan droping air dengan menggunakan mobil tangki terkendala. Bantuan yang datang dari pemerintah maupun pihak swasta harus melalui proses panjang, karena harus dinaikkan ke atas bukit dengan cara diangkut dengan ember,” kata Dukuh Baturturu, Saryanto, Selasa (28/7/2020).

 

Bahkan karena sulitnya lokasi, diakui hanya sedikit sopir truk tangki air yang berani naik ke wilayah rumah penduduk. Kalau pun ada mobil tangki yang berani sampai wilayahnya, harganya sudah mencekik. “Kalau daerah lain satu mobil tangki isi 5.000 liter paling hanya Rp 80.000, tetapi di wilayah kami harganya bisa mencapai Rp 250.000,” ucapnya.

 

Namun karena kebutuhan air sangat pokok, maka berbagai cara dilakukan warga yang secara mandiri mencari sumber air. Dimasukkan dalam ember, lalu digendong. Rute menuju sumber air, kata Saryanto, tidak bisa dilalui kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

 

“Bagaimana lagi. Harus jalan kaki. Setiap hari warga kami seperti itu padahal jaraknya  untuk menuju sumber air cukup jauh. Bahkan ada yang hingga 2 km,” katanya.

 

Menurutnya, meski satu padukuhan namun sumber air yang diperoleh warga berbeda-beda. Ada penduduk yang mempunyai sumber air di celah batu lereng bukit. Namun ada juga warga yang bergotong royong menggali sumur, meski untuk mendapatkan air, kedalaman sumur hingga mencapai 30-an meter. 

 

Hal yang sama juga diakui Lurah Pacarejo, Kapanewon Semanu, Suhadi. Menurutnya, ada dua padukuhan di wilayahnya, masing-masing Peyuyon dan Banyumanik, yang warganya kerepotan mencari air bersih.

 

“Selama ini memang sudah ada jaringan pipa air dari PDAM, namun tidak maksimal. Kadang air keluar, dan kadang tidak,” kata Suhadi.

 

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki, secara terpisah mengakui tidak semua wilayah kekeringan bisa terjangkau mobil yang membawa bantuan air. “Sebagaimana wilayah Kapanewon Gedangsari, memang sangat sulit. Hanya beberapa wilayah yang bisa terjangkau mobil tangki,” katanya. (eru)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini