dijauhi-warga-klaster-pasar-suronegaran-membawa-duka-mendalamSuasana pasar Suronegaran tampak sepi pada Sabtu (8/8/2020) pukul 09.00 WIB. (w asmani/koranbernas.id)


W Asmani

Dijauhi Warga, Klaster Pasar Suronegaran Membawa Duka Mendalam

SHARE

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO – Raut sedih terpancar dari wajah SH (45). Kepala Pasar  Pagi Suronegaran, Purworejo tersebut mengaku pandemic Covid-19 mengubah hidupnya.

Pasca munculnya klaster penularan Covid-19 di pasar tersebut pada pertengahan Juli 2020 lalu, tak hanya Suronegaran yang ditutup, dia dan beberapa pedagang yang tertular virus tersebut pun mengalami dampak yang luar biasa.


Baca Lainnya :

Bilamana tidak, mereka tak hanya dijauhi tetangga sekitar rumah. Banyak pembeli pun ketakutan untuk berbelanja di pasar induk tersebut

"Dengan vonis saya positif Covid-19, otomatis istri yang berdagang kuliner dan ibu sebagai pedagang di pasar Baledono pun turut menghentikan aktivitas ekonominya karena warga menjauhi. Yang paling menyedihkan saat para tetangga menjauh. Samping rumah adalah jalan terdekat menuju masjid, tetapi warga lebih memilih jalan jauh untuk menghindari saya dan keluarga," ungkap SH saat berbincang dengan koranbernas.id, Sabtu (8/8/2020).


Baca Lainnya :

Awal perjalanan duka tersebut saat pedagang sayuran dari desa Brenggong, Putri dinyatakan positif Covid-19 pada minggu ketiga Juli 2020 rawat inap di rumah sakit dan menjalani tes.

“Pada saat itu mendadak heboh, tersiar kabar ada klaster baru yaitu kaster pasar Suronegaran," papar SH.

Dia pun akhirnya dipanggil Sekda Purworejo pada 16 Juli 2020. Dari pertemuan tersebut akhirnya diputuskan Pasar Suronegaran ditutup pada 18 dan 19 Juli 2020 untuk sterilisasi. Setelah penutupan dua hari, Pasar Suronegaran diperbolehkan buka kembali. Pemkab kemudian melakukan tes swab di blok 7 pada 20 Juli 2020. Tes swab dilakukan pada 40 pedagang pasar, petugas pasar dan petugas dari Dinas KUMKP Purworejo.

“Tes swab dilakukan petugas dari Dinas Kesehatan Purworejo, dan janjinya adalah hasilnya akan disampaikan ke saya selaku kepala pasar," urai dia.

Namun dari 20 Juli hingga 27 Juli tidak ada kabar dari dinkes Purworejo. SH baru mendapatkan informasi  pada 28 Juli 2020 yang menyatakan dirinya positif Covid-19 dan harus menjalani isolasi mandiri di rumah.

Dari hasil tes swab yang dilakukan di pasar Suronegaran pada 20 Juli 2020, selain SH dan dua petugas pasar, satu orang Dinas KUMKP, tujuh pedagang pasar dan satu orang pegawai lapak martabak dinyatakan positif Covid-19.

Dengan tambahan pasien tersebut maka total pasien positif Covid-19 di Purworejo menjadi 14 orang. Merek harus menjalani isolasi mandiri. SH mengatakan dirinya tak bisa berbuat banyak selain mematuhi perintah untuk isolasi mandiri di rumah. Beruntung dia punya paviliun sehingga bisa terpisah dengan keluarganya.

Setelah beberapa hari isolasi mandiri di rumah, Selasa (4/8/2020) lalu barulah dia mendapatkan surat dari dinkes Purworejo yang menyatakan SH positif Covid-19. Surat kembali dia pada Rabu (5/8/2020) dari UPT Puskesmas Purworejo yang  menyatakan dia sehat, artinya yang bersangkutan dinyatakan sembuh (negatif) dari Covid-19.

"Walaupun saya sudah mendapatkan surat sehat, namun pihak jogo tonggo meminta saya tetap mematuhi isolasi mandiri hingga Sabtu,” jelasnya.

Menurut SH, sebagai kepala pasar dia selalu mengingatkan baik pedagang maupun pengunjung untuk selalu mematuhi protokol kesehatan. Fasilitas cuci tangan pakai sabun selalu terpenuhi, dan himbauan pakai masker pun selalu dilakukan.

"Bagi yang tidak mengenakan masker, saya suruh membeli terlebih dahulu, kok kami masih bisa terpapar positif Covid-19," ujar SH.

Surat Sehat Terlambat

Kisah yang tragis dialami  DH (33), warga kelurahan Brengkelan RT 04, RW 04. Petugas kebersihan pasar Suronegaran tersebut terpapar Covid-19. Padahal dia adalah tulang pungguh keluarga pasca ayahnya meninggal dunia.

Hasil positif Covid-19 DH diketahui saat Ketua RW memperoleh telepon dari Puskesmas Purworejo yang mengakabar DH positif Covid-19 dan harus isolasi mandiri, 28 Juli 2020. Selanjutnya Ketua RW memberitahu Lurah dan berkoordinasi dengan RT perihal isolasi mandiri untuk DH dan keluarga.

"Bapak dari DH baru saja meninggal dunia  jadi DH harus jadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai petugas kebersihan di pasar itu. Namun karena tertular virus corona, sekarang DH dengan seluruh keluarga menjalani isolaasi mandiri," jelasnya.

TK menuturkan, meski para tetangga membantu kebutuhan pangan keluarga DH yang isolasi mandiri, DH tak bisa bekerja. Sehingga mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan lainnya.

Namun informasi kesehatan DH dan keluarga tak juga keluar pasca isolasi mandiri. Atas inisiatif warga bersama, mereka meminta informasi Puskesmas Purworejo  yang menyatakan kondisi kesehatan DH.

"Kami mengejar terus surat keterangan positif untuk DH, dan akhirnya, Selasa (4/8/2020) surat tersebut datang dari Puskesmas Purworejo, yang menyatakan DH positif Covid-19. Dan, hari berikutnya, Rabu (5/8/2020) DH mendapat surat keterangan sehat dari Puskesmas Purworejo.  DH dan keluarga bahagia dan lega mendapatkan surat tersebut,” ungkapnya.

Bendahara Pasar Suronegaran, Dwi Budi menuturkan sangat prihatin dengan stigma negatif dari masyarakat dengan munculnya klaster penularan Covid-19 di pasar tersebut. Banyak pedagang pasar yang menjadi korban karena  ditolak para pembeli.

“Tak hanya ditolak, banyak pedagang keliling yang ditolak memasuki wilayah tertentu, maka tak hanya kerugian ekonomi saja tetapi juga sangsi sosial yang sangat merugikan pedagang kami," tuturnya.

Dwi Budi menambahkan kepala pasar, staf pasar juga tenaga kebersihan yang terpapar positif Covid-19  menjadi semua pihak jadi kalang kabut. Petugas pasar harus menyelesaikan banyak pekerjaan hingga malam hari, dari urusan kantor hingga membersihkan pasar.

“Tak hanya itu, saya masih membantu menyelesaikan masalah pedagang yang menjalani isolasi," jelasnya.

Dwi Budi mengungkapkan, ada pedagang jajanan di pasar Suronegaran yang dipaksa isolasi mandiri karena suaminya diisolasi di rumah sakit akibat positif Covid-19. Pedagang jajanan tersebut keberatan karena dia menjadi tulang punggung keluarga harus mencukupi kebutuhan harian sebesar Rp 200.000. Permasalahan yang sama juga dialami pedagang-pedagang lain yang terpapar positif Covid-19

"Untuk pedagang tersebut saya carikan solusi, agar dia tetap mematuhi warga untuk isolasi mandiri dan yang berjualan di pasar bisa diganti oleh adiknya. Saya selalu mengingatkan baik pedagang maupun pengunjung untuk selalu mematuhi protokol kesehatan," tandasnya.(yve)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini