akhirnya-semua-dipaksa-onlineilustrasi pendidikan daring (lilik sumantoro/koranbernas.id)


Redaktur

Akhirnya Semua Dipaksa Online

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Pembelajaran online memang serba dadakan. Meskipun  sebetulnya sudah lama mendorong pembelajaran online terutama di tingkat perguruan tinggi. Ini sudah terus kami dorong sejak 2013 lalu. Tapi saat itu, menurut saya terlalu banyak persyaratan. Salah satunya perguruan tinggi yang bisa menyelenggarakan system pembelajaran ataupun perkuliahan online adalah yang akreditasi A atau masuk ke kategori PT Unggulan.

“Sampai pandemik, relatif belum ada yang bisa menjalankan konsep pembelajaran online ini. Regulasi sudah ada, tapi belum ada yang menjalankan. Jadi menurut saya, ini berkah tersembunyi untuk pelaksanaan program pembelajaran jarak jauh. Tapi secara ide, adanya UT adalah gagasan penyelenggaraan jarak jauh. Tapi wujudnya belum ada,” ungkap Pengamat pendidikan dari PKBTS Persatuan Keluarga Besar Taman Siswa, Darmanintyas, beberapa waktu lalu.


Baca Lainnya :

Baru setelah pandemi, semua dipaksa untuk melakukannya. Karena kondisi terpaksa, tentu ada yang sudah bagus ada yang belum. Karena untuk pelaksanaan pembelajaran jarak jauh ini, sangat dipengaruhi oleh infratstuktur jaringan listrik dan internet. Di daerah yang bagus, masyarakat punya dana atau uang untuk kuota dll, tentu saja tidak masalah.

Tapi untuk daerah yang jaringan listrik dan internet masih bermasalah, tentu juga tidak bisa diterapkan. Begitu juga untuk yang internet listrik bagus, kalau ekonomi keluarga kurang mendukung juga memiliki kendala.


Baca Lainnya :

“Sudah pasti pasca pandemi, cara ini masih akan tetap berlanjut. Tapi cuma sebagian. Ada bidang-bidang yang bisa dilaiukan pembelajaran online, terutama yang sifatnya hapalan dan teori. Tapi ada juga yang gak mungkin dengan daring. Seperti ilmu-ilmu dasar misalnya matematika, fisika, kimia, biologi jelas agak susah. Dampaknya pasti ada. Tapi tidak akan sepenuhnya online. Akan dipadu dengan pembelajaran tatap muka. Istilahnya blanded learning yakni campuran antara oinline dan tatap muka. Tidak bisa tidak ke arah sana,” tandasnya.

Pembelajaran online sudah kita jalani sekarang. Untuk tatap muka selama ini melaksanakan pembelajaran tatap muka. Jadi, menurut saya akan berjalan baik saja. Hanya porporsinya berubah. Untuk blanded learning, pembelajaran tatap muka 70 persen. Yang online 30 persen.

Persoalan lain, sistem pembelajaran online tidak bisa untuk pembelajaran karakter. Kalau pendidikan karakter mesti harus tatap muka. Gerak gerik murid, perilaku, ucapan guru, mimik guru, itu penting dan menjadi tauladan bagi murid. 

Untuk yang sistem pembelajaran online, sekarang sedang dilakukan penyederhananaan kurikulum. Bisa lebih sederhana. Karena ada sejumlah kompetensi dasar yang dipangkas. Konsekuensinya, ada juga materi yang terpangkas.

Nantinya, tidak semua materi dalam buku pelajaran diberikan semua. Hanya sebagian saja yang penting panting saja yang diberikan. Yang substansi yang sifatnya penjelasan, ilustrasi penjelasan tdk harus.

Harus diakui, sistem pembelajaran online sekarang ini, efektivitasnya rendah. Banyak kendala di lapangan. Tapi memang tidak ada pilihan dalam kondisi sekarang ini.

“Satu satunya yang bisa dilakukan hanya itu. Tatap muka resiko besar terhadap keselamatan anak. Pilihan terbaik dari yang terburuk. Gak ada alternatif lain. Kecuali yang selalu saya usulkan di desa desa kalau ada pembimbing. Misalnya kelompok belajar. Dikumpulin di balai desa, balai dusun, dibawah bimbingan tutor, maka bisajadi salah satu alternatif,” tandasnya.

Persoalan ini  berdampak ke output.  Dari segi waktu perjumpaan saja sudah mengalami penyusutan. Belum lagi kalau bicara materi pelajaran yang memang tidak bisa dilakukan secara daring. Kualitas pendidikan di masa pandemi covid-19 dipastikan turun. Ini adalah fakta dari kualitas pendidikan yang tidak bisa dipungkiri.

“Banyak sekolah yang tidak menuntaskan pembelajaran. Dengan begitu kita pasti sepakat jika kualitas pendidikan pasti turun. Tidak usah diperdebatkan dan ditanya lagi. Pasti,” tandasnya.

Terlebih ada sekolah yang tidak bisa menjalankan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara optimal. Dalam catatan Kemendikbud, bahkan ada puluhan ribu sekolah yang terhambat PJJ hanya gara-gara permasalahan internet dan listrik.

Tidak ada sinyal itu, konon terjadi di 19.277 sekolah. Tidak ada listrik yang tentu saja sudah tidak internet ada 35.002 sekolah. Jadi total sekolah bermasalah ada 54.279.

Karena itu PJJ di masa pandemi covid-19 ini seolahmembuat pendidikan, sekolah khususnya menjadi tidak berdaya. Terlebih lagi karena Kemendikbud tidak memberikan solusi terhadap infrastrukturnya. Saat seperti itu, sama saja sekolah itu libur koq.

Persoalan PJJ bukan hanya perkara penyediaan subsidi pulsa. Tapi juga harus pecahkan masalah infrastruktur. Harus ada koordinasi dengan kementerian lain untuk ini.

Gelontor Internet Gratis Demi Komunikasi

Beberapa pemerintah daerah menetapkan kebijakan belajar di rumah secara online atau E-learning. Hal ini dilakukan sebagai upaya menghentikan wabah virus corona atau Covid-19.

Indosat mendukung kebijakan belajar di rumah tersebut dengan memberikan secara gratis kuota sebesar 30GB selama 30 hari yang bisa diaktifkan melalui *123*369#.

Selain itu, gratis kuota 30GB ini juga dapat digunakan untuk mengakses ke lebih dari 60 platforme-Learning dan situs resmi dari universitas-universitas di Indonesia.

Program ini diberikan iM3 Ooredoo untuk mendukung kegiatan belajar di rumah dengan memberikan kuota gratis 30GB untuk mengakses aplikasi belajar online bagi pelanggan iM3 Ooredoo.

“Saat ini proses belajar dan bekerja sangat berbeda dari biasanya karena adanya penerapan social distancing, dan sebagai dampaknya Indosat memahami kebutuhan berinteraksi secara online atau digital akan meningkat secara signifikan,” papar Suzanna Permata, Head of Sale central Java dan DIY PT Indosat Ooredoo

Kuota internet gratis ini juga dapat dimanfaatkan untuk mengakses ke 4 platform e-Learning dan 60 situs resmi universitas di Indonesia, agar mahasiswa dan dosen tetap dapat melanjutkan proses perkuliahan selama krisis COVID-19 berlangsung.

Sementara itu untuk memenuhi kebutuhan komunikasi pelanggan selama bekerja di rumah, IM3 Ooredoo memberikan diskon hingga 30 persen untuk beberapa paket internet yang tersedia di myIM3 atau di *123*52#.

Kuota gratis Indosat Ooredoo dapat dimiliki oleh semua pelanggan Indosat baik berbayar atau pascabayar. Kuota gratis 30 GB bisa diperoleh melalui aplikasi myIM3 atau tekan *123*369#.

Program diluncurkan sejak 18 Maret dan berlaku hingga 2 bulan berikutnya. Mulai Mei, program tersebut masih berjalan sampai sekarang. Tapi tidak semua free. Pelanggan musti membayar Rp 5.000 untuk mendapatkan 30 gigabyte. Kalau dinilai ya sekitar rp 150 ribu.

Indosat juga terus meningkatkan kapasitas jaringan. Secara coverage, untuk seluruh wilayah Jateng dan DIY seharusnya sudah tidak ada blank spot, terkecuali untuk daerah-daerah yang secara kondisi geografis berkontur pegunungan. Secara teknis kondisi seperti ini akan sulit untuk semua operator. Untuk daerah-daerah yang dataran rendah atau lembah dengan dikelilingi pegunungan sudah pasti masih sulit.

Selain program sales, secara teknis Indosat juga terus melakukan penambahan jaringan. Terutama sejak pandemi, mengingat terjadi perubahan perilaku masyarakat dalam hal menggunakan layanan internet, Indosat juga melakukan penyesuaian.

Selain terjadi lonjakan pemakaian internet, juga terjadi pergeseran traffic lantaran aturan mengenai learning from home dan work from home.

Hal ini juga menuntut operator untuk melakukan penambahan BTS dan lain sebagainya, guna memastikan layanan internet ke pelanggan tetap baik.

Untuk jaringan yang trafficnya padat dan mulai terjadi pelambatan, maka penambahan jaringan pasti dilakukan. Baik menambah BTS, ataupun menambah tower-tower baru.

“Contoh di kawasan perumahan yang dulunya masih cukup longgar, karena pandemi terjadi lompatan pemakaian, sehingga melambat dan bahkan hang atau ngejam.

Hal senada disampaikan EVP Regional IV Jateng dan DIY PT Telkom, Djatmiko yang mengungkapkan ditengah pandemic Covid-19, pelanggan dan calon pelanggan butuh banget akses internet di rumah. Telkom sebagai BUMN telekomunikasi sejak awal pandemic sudah melakukan langkah-langkah guna menyiapkan infrastruktur , untuk memastikan kebijakan Learning dan work from home berjalan efektif dan baik.

Work from home dan learning from home, ikut mendorong pertumbuhan jumlah pelanggan baru IndiHome di Jateng dan DIY. Secara total, pasar IndiHome naik sekitar 30 persen, dengan porsi terbesar dari program learning from home (LFH).

Kebijakan pemerintah terkait WFH dan LFH, membutuhkan dukungan jaringan internet yang memadai. Hal ini otomatis juga mendorong permintaan pemasnagan jaringan IndiHome baru di masyarakat.

Peningkatannya di atas 30 persen. Terutama mulai Maret 2020, atau sejak wabah Covid-19 merebak.

Selain pertumbuhan jumlah pelanggan, dari sisi traffic juga terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Terjadi perubahan perilaku masyarakat yang luar biasa, yang dipicu dari program yang sama yakni WFH dan LFH.

Telkom, memberikan program khusus guna mendukung learning from home. Diantara program tersebut, adalah IndiHome LFH Free Access, yang memungkinkan pengguna menikmati layanan internet gratis dengan kecepatan 10 megabyte dan kuota 100 gigabyte, dengan abonemen bulanan Rp 169 ribu.

Layanan ini dapat dipergunakan untuk kepentingan akses maupun download materi belajar mengajar atau perkuliahan di berbagai sekolah maupun kampus di Jateng dan DIY. Sedangkan untuk akses ke luar dari sekolah atau kampus terkait, otomatis akan mengurangi kuota IndiHome dari pelanggan.

Misalnya kalau mahasiswa UGM akses ke internal UGM, semua free. Tapi kalau akses ke kampus lain, otomatis akan mengurangi kuota. Banyak sekali yang memanfaatkan layanan ini. Kami ingin berkontribusi untuk mendukung dunia pendidikan di masa pandemic.

Telkom juga terus membangun infrastruktur dan jaringan serta memodernisasi jaringan. Sekarang inipun pembangunan terus dilakukan bersama anak perusahaan Telkomsel.

Ini sangat serius, lantaran Telkom grup menguasai sekitar 90 persen market share pengguna internet.  

Transaksi juga relatif meningkat hampir 40 persen dibanding sebelum covid. Ini bukti kalau masyarakat benar-benar membutuhkan. Lantaran kalau mengandalkan paket data lebih mahal. Dengan IndiHome bisa dipakai bersama-sama.

Hanya Pelanggan ,masih kurang paham. Kalau dengan 10 Mbps, dipakai bareng-bareng lebih dari 5 laptop atau PC yang lemot. Kalau mau seperti itu pakai yang 20 Mbps. (aro)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini